7 IJW

IFFAH JAZILAH WIJAYA a.k.a ZIZI, sebuah nama indah penuh doa yang kami anugerahkan untuk puteri pertama kami. Kalau diartikan secara terpisah “Iffah” mempunyai arti “suci terpelihara“, sedangkan “Jazilah” mempunyai arti “bijak dalam berbicara“, dan “Wijaya” diambil dari nama orang tuanya. Jadi kalau digabungkan nama tersebut mempunyai arti, “Wanita suci terpelihara yang bijak dalam berbicara“.

Si dedek 5 minggu 3 hari

Foto USG 2D janin Zizi waktu berumur 5 minggu

Selain itu, panggilan ‘Zizi” sendiri menurut bahasa Hongaria mempunyai arti “Taat kepada Tuhan“. Sedikit bercerita waktu pencarian nama ini cukup cepat, karena sudah ditanya-tanya banyak orang. Sebelum lahiran, kami baru menyiapkan nama untuk bayi laki-laki, dan Maha Besar Allah ternyata bayi kami perempuan. Selama berkali-kali di USG, bahkan USG 4D dua kali, sama sekali jenis kelamin janin Zizi waktu diperut ummi-nya tidak bisa diketahui.

Si dedek 11 minggu 1 hariFoto USG 2D janin Zizi waktu berumur 11 minggu

Zizi, sebuah penantian dari minggu ke minggu

Awal tahunya kalau istri saya hamil adalah ketika istri sudah telat haidnya, waktu itu saya ditelpon istri memberi tahu kalau ia sudah telat datang bulannya. Istri lalu mengecek kebenarannya melalui alat yang disebut test pack, saya lupa merek apa. Guna lebih meyakinkan istri sampai dua kali memakai test pack, tetapi yang kedua ini test pack nya yang lebih mahal dan akurat, lagi-lagi saya lupa mereknya. Dan ternyata kedua test pack tersebut menghasilkan dua garis, yang artinya positif hamil.

Setelah memakai alat tersebut, istri lalu mendatangi Klinik YK Madira untuk melakukan pemeriksaan. Waktu itu istri diperiksa oleh dokter spesialis Obgin, dr. Yuri Kamila, Sp.OG. Dan setelah diperiksa alhamdulillah istri saya positif hamil dengan perkiraan kelahiran (HPL) bulan februari 2013.

Semenjak itu, dari bulan ke bulan istri rutin kontrol kehamilannya untuk memastikan kondisi janin sehat, maklumlah secara penantian anak pertama. Setelah berdiskusi sana sini, mencari referensi di internet, kami memutuskan untuk lahiran di RS Pusri Palembang, dengan pertimbangan, sudah banyak yang merekomendasikan, dokternya perempuan, rumah sakitnya provider Askes, dan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Mulai bulan ke-3 kalau tidak salah, istri mulai rutin kontrol di RS Pusri dengan dr. Oriza Zulkarnain, Sp.OG, jadwal prakteknya jum’at siang atau sabtu pagi. Setiap mau kontrol harus mengambil rujukan dulu dari Puskesmas Kenten, karena kami memakai jasa ASKES. Dan di RS Pusri bagi pasien ASKES mendapat jatah USG 2 Dimensi gratis sebanyak 4 (empat) kali.

Perkembangan janin Zizi dari bulan ke bulan menunjukkan pertumbuhan yang normal dan sehat. Begitu juga dengan ummi nya tidak terlalu banyak keluhan. Biasanya dokter cuma memberi resep suplemen multivitamin dan asam folat. Selain itu juga, istri juga rutin minum susu hamil merek Prenagen. (Masih tanda tanya bagi saya, apakah memang disarankan atau tidak, minum susu hamil + konsumsi obat dokter juga???)

Selama beberapa kali USG 2D di RS PUSRI, dokter belum bisa memastikan jenis kelamin calon bayi kami. Padahal istri saya sangat penasaran pengen tahu si dedeknya cowok atau cewek. Kami pun mencoba USG 4 Dimensi di Klinik YK Madira dengan dr. Yuri lagi, sayang hasilnya tetap nihil, jenis kelamin tidak bisa dilihat karena tertutup tali pusernya. Beberapa bulan menjelang kelahiran, kami juga kembali mencoba USG 4 Dimensi, kali ini kami coba di Klinik Azka Jl. Radial dengan dr. Nuswil Bernolian,Sp.OG(K). Lagi-lagi hasilnya sama seperti sebelumnya, si dedek tak mau menampakkan jati dirinya cowok kah atau cewek kah. (Kayaknya memang mau ngasih surprise buat abi dan umminya)

Episode Melahirkan yang menegangkan

Rabu pagi di tanggal 6 februari 2013, saya berangkat kerja seperti biasa. Tidak ada perasaan apapun yang memberi sinyal bahwa akan ada peristiwa penting hari ini. Tanggal 6 februari usia kehamilan istri sudah 39 minggu mau ke 40 minggu. Sementara itu, satu hari sebelumnya atau hari selasanya, belum ada tanda-tanda akan melahirkan sama sekali.

Pagi menjelang siang saya mendapat telepon dari istri, katanya ia sudah keluar flek dan sudah mulai mules. Antara senang dan gundah saya mendengar kabar dari istri itu. Siang hari, saat sedang makan siang, istri kembali menelpon, istri bilang mulesnya semakin tidak tertahan, berdiri saja sudah tidak kuat ucapnya. Sementara itu di rumah istri hanya sendirian, mertua belum pulang dari sekolah.

Siang hari itu juga, setelah mertua sudah ada di rumah, istri langsung dibawa ke RS PUSRI oleh mertua. Dan ketika diperiksa ternyata sudah bukaan 2, dan disarankan oleh salah seorang dokter (kami lupa namanya) untuk pulang saja dulu, alasannya karena posisi bayi masih tinggi. Jadinya sekitar pukul 3 sore, mertua dan istri kembali pulang ke rumah di Sako.

Tiba di rumah, istri langsung shalat ashar, dan belum selesai shalat mules tak tertahankan kembali datang, jadinya sehabis shalat istri langsung dibawa lagi ke rumah sakit. Setelah diperiksa lagi, posisinya masih seperti tadi siang, masih bukaan 2. Supaya ambil amannya, mertua memutuskan agar istri langsung dirawat di RS saja.

Sementara itu di kantor saya sudah galau pengen segera pulang ke Palembang. Teman-teman menyarankan saya segera pulang, karena jarak antara bukaan 2 sampai lahiran biasanya tidak lama. Alhasil sore itu juga saya membuat surat cuti tahunan, dan alhamdulillah di acc cuti saya selama 5 hari kerja atau 1 minggu karena ditambah hari sabtu dan minggu.

Saya keluar kantor jelang pukul 6 sore, Jakarta benar-benar mencekam, langit gelap karena habis hujan besar, rintik-rintik kecil air hujan masih berjatuhan, berita banjir sudah tersiar di beberapa tempat, macet parah dimana-mana, bahkan yang paling membuat saya harus bilang wow, terowongan casablanca yang terletak tidak jauh dari kantor sudah tidak bisa dilewati, karena air sudah hampir mencapai langit terowongan tersebut.

Dipikiran saya berkata saya harus pulang malam ini juga, walaupun tiket belum ada di tangan. Jadi saya harus segera ke bandara dan nanti mencari tiket di bandara saja. Dengan kondisi Jakarta yang seperti tadi, tidak mungkin saya bisa cepat tiba di bandara kalau menggunakan bus DAMRI, moda transportasi yang biasa saya pakai, taksi pun sepertinya butuh lebih dari 2 jam untuk sampai ke bandara. Ojek menjadi pilihan agar bisa mengejar waktu, tapi sayangnya saya harus menunggu hampir satu jam dulu, padahal biasanya keluar kantor, para tukang ojek langsung sudah berbaris sambil menawarkan jasa mereka, huft, luar biasa memang.

Hampir pukul 9 malam saya tiba di bandara Soekarno Hatta dengan kondisi basah kuyup di seluruh tubuh (haha, kayak lirik lagu nih), tapi memang seperti itu keadaannya, karena selama diperjalanan hujan masih terus turun, sementara sang ojek tak memberikan jasa jas hujan untuk penumpangnya ini, hehehe.

Setelah tanya loket Lion air, loket Sriwijaya air, dan menelpon Garuda Indonesia, semua maskapai sudah tidak menyediakan lagi tiket untuk penerbangan malam ini. Besok pun baru ada sore hari, penerbangan ke Palembang memang lagi high season, soalnya menjelang hari Imlek tanggal 10 februari, dan terasa sekali bahwa kota kelahiran saya ini memang banyak orang keturunan chinanya.

Dalam kondisi bingung seperti itu, saya disamperin seseorang yang tak kenal, dia menanyakan saya mau berangkat kemana. Saya bilang saja, saya mau ke Palembang malam ini. Wah ternyata orang itu hebat juga, di loket sudah tidak ada tiket lagi, sama dia masih ada tiket Lion air untuk keberangkatan malam ini juga jam 21.20 WIB. Orang itu adalah calo tiket pesawat, dia orang Batak terlihat dari gaya bicaranya dan bentuk mukanya yang agak “kotak”. Ternyata ada kalanya calo itu “sangat bermanfaat”. Alhamdulillah akhirnya saya bisa pulang malam itu juga, walaupun sedikit harus membayar lebih.

Pesawat yang saya tumpangi harus mengalami delay, hingga menjelang pukul 00.00 saya baru tiba di Palembang dan saya langsung bergegas naik taksi menuju RS Pusri, saat sudah di pintu masuk lobby utama RS Pusri mama mertua menelpon, dan ternyata mengabarkan istri saya sudah lahiran pukul 23.25 WIB, prosesnya normal dibantu dr. Oriza. Yahhhh….telat deh.

Dengan langkah semakin cepat saya mencari paviliun Cempaka, tempat istri dirawat. Di kursi tamu saya lihat ada papa mertua dan kak Mamad. Mereka langsung menyuruh saya untuk masuk ke ruang tempat istri saya melahirkan. Dan di ruang melahirkan itu, saya lihat ada mama mertua dan yuk Irul, saya pun diijinkan masuk, dan subhanallah bahagia dan haru sekali rasanya melihat si dedek sudah berada dalam dekapan ummi nya. Adzan saya kumandangkan sembari berharap permata hati kami ini nantinya menjadi anak sholehah dan penyejuk hati orang tuanya, aamiin allahumma aamiin. Terima kasih ya rabb.

06022013Iffah Jazilah Wijaya saat baru tiba di alam dunia

07022013(008)Bobok sambil dibedong, masih di RS

Camera 360Gaya unyu-unyu di kasur baru, sudah di rumah

10022013 sensor

Sunbathing (berjemur matahari pagi) dulu di teras rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s