Handphone itu masih rizki saya


Ceritanya dimulai saat saya bersama istri sedang makan malam di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di sekitaran Jalan R. Sukamto kota Palembang hari senin 14 Januari 2013. Kami baru tiba di tempat makan tersebut jam 9 malam lewat, setelah sebelumnya saya menjemput istri yang baru selesai lembur di kantornya. Suasana tampak sangat sepi, mungkin kami adalah pelanggan terakhir di restoran yang dimiliki bapak Puspo Wardoyo tersebut.

Tak lama kami duduk, pelayan pun segera menghampiri kami dengan menyodorkan daftar menu makanan dan minuman. Selesai memesan makanan, kami harus menunggu beberapa menit sampai pesanan kami siap disajikan di meja makan. Dan seperti biasa kebiasaan yang sering dilakukan untuk menghilangkan kebosanan menghadapi yang namanya episode “menunggu” saya mengeluarkan handphone dan mulai menjelajah dunia maya sambil mengobrol bersama istri tercinta tentunya. Dan kebiasaan jeleknya adalah saya sering menggeletakkan saja handphone di atas meja ketika tidak sedang browsing, karena dipikiran saya nanti akan dipake browsing lagi, kalau dimasukin ke saku celana agak ribet kalo mau dikeluarkan lagi.

Makanan akhirnya datang dan disajikan di hadapan kami berdua, tanpa menunggu lama kami langsung menyantap kuliner nikmat karunia Tuhan. Sruuutt…minuman teh manis menutup makan malam kami. Alhamdulillah perut yang tadinya lapar sudah menjadi kenyang. Sejenak duduk sembari menurunkan makanan kami masih berada di meja makan kami. Setelah itu saya menuju meja kasir untuk membayar dan istri juga menyusul ke meja kasir sambil menenteng tas saya yang tadi ditarok disamping meja makan kami.

Lalu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Pondok Mertua Indah di sekitaran Sako, Perumnas. Sesampai di rumah kami langsung menuju kamar. Kemudian timbul pikiran pengen browsing lagi di handphone saya. Saya mengambil handphone di saku celana  yang tadi saya pakai. Eitss…ternyata di saku celana sudah tidak ada handphone. Ohh berarti sudah saya keluarkan dan ditarok di kamar, begitu dalam pikiran saya. Mencari di beberapa tempat saya biasa meletakkan handphone saat di kamar tenyata hasilnya nihil. Istri menyarankan di miss called aja, sigap saya langsung memakai hp istri menelpon ke nomor saya sendiri. “Nomor yang Anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan”, hatiku langsung gemetar, astaghfirullahal adziim. “Tadi baterainya lowbat nggak bi?”, tanya istri. Seingat saya hp tersebut masih memiliki baterai yang cukup banyak. Saya kembali memeriksa saku celana kedua kalinya, sayang hasilnya sama saja. Handphone saya tidak disitu. Kembali saya miss called, suara operator seperti sebelumnya kembali menjawab panggilan telepon saya. Kepanikan mulai melanda, namun harus tetap disikapi dengan ketenangan jiwa. Saya masih terus memikirkan kira-kira kemana handphone itu. “Apa tadi saat bermotor terjatuh di jalan ya mi?”, tanyaku pada istri. Istri saya pun bingung juga, lalu istri memberi masukan coba menghubungi tempat makan tadi. Mungkin juga sih begitu pikir saya. Saya kembali meminjam handphone istri saya membuka google dengan keyword “Ayam Bakar Wong Solo Palembang telepon”. Mesin pencari yang luar biasa itu langsung seketika menampilkan hasil pencariaanya, termasuk nomor telepon rumah makan tadi. Hmmm…namun sayangnya setelah dua-tiga kali ditelepon, nomor telepon rumah makan tidak ada yang menjawab (tidak diangkat). Saya terus mencoba menenangkan diri, “ya sudahlah”, pikirku dalam hati. Kalau masih rizki saya, handphone itu akan kembali. Di pikiran saya sudah terbayang besok harus ke Grapari Telkomsel Veteran untuk mengurus penggantian kartu baru dengan nomor saya yang hilang tersebut, memikirkan besok sepertinya harus membeli handphone baru, juga memikirkan data-data di handphone saya. Malam semakin larut saya memutuskan segera istirahat sambil terus berdoa dan beristighfar.

Hari telah berganti, sekitar pukul 7 pagi saya coba kembali menelpon RM Wong Solo. Akhirnya ada yang mengangkat, seorang wanita yang saya sapa dengan sapaan mbak saja. “Mbak saya semalam makan disana, sekitar pukul 9 malam. Ada handphone ketinggalan nggak mbak?”, tanyaku. “Oh iya ada pak”, jawab mbak itu. Alhamdulillah…hatiku sangat lega sekali mendengar jawaban tersebut, walaupun sebenarnya belum tentu hp saya yang ketinggalan itu. “Hp nya tipe berapa pak?”, tanya dia kembali. Dengan segera saya sebutkan tipe handphone saya, dan alhamdulillah ternyata benar yang ketinggalan itu hp saya, terima kasih Allah.

Pagi ini saya menghantarkan istri berangkat kerja ke kantornya. Habis dari kantor istri baru saya menghampiri RM Wong Solo untuk mengambil handphone kesayangan saya. Sebuah amplop putih kecil berisikan uang 50ribu sudah saya siapkan untuk diberikan ke orang jujur yang menemukan hp saya. Tiba di RM Wong Solo saya langsung menuju meja kasir menemui seorang wanita yang sedang disana. Saya langsung menjelaskan kejadian semalam dan tentang hilangnya hp saya. “Oh iya tunggu sebentar ya pak”, begitu kira-kira ucap mbak itu. Tak lama berselang mbak itu menemui saya kembali di meja kasir, tapi kali ini dia tidak sendirian. Dia datang bersama seorang mbak lagi. Mbak yang baru itu bertanya kepada saya, di meja mana saya makan semalam, handphone saya tipe apa, mungkin ia ingin memastikan apakah benar saya pemilik hp tersebut. Setelah yakin dengan jawaban yang saya berikan, mbak tersebut mengeluarkan handphone itu dari saku baju batiknya. Dan ternyata benar, itu hp saya. Saya sangat senang sekali waktu itu. Tak ingin lama-lama disana, saya langsung menanyakan siapa orang yang menemukan hp saya di meja makan semalam. Kalo gak salah mbak itu menjawab mas Rahmat. Saya mengeluarkan amplop putih tadi, sambil menitipkan pesan saya menitipkan amplop ini untuk mas Rahmat. Tanpa saya duga ternyata mbak itu tidak mau terima ucapan terima kasih saya itu, berulang-ulang saya jelaskan, namun mereka berdua tetap bersih keras tidak mau menerima. “Kami sudah biasa mengalami kejadian seperti ini pak, dan biasanya hp yang ditemukan itu langsung diamankan di kasir”, ucap salah seorang dari mereka berdua. Saya tetap memaksa agar mereka mau menerima amplop itu, namun usaha saya tetap gagal. Akhirnya saya yang menyerah, karena sehabis dari rumah makan saya harus ke Graha Askes. Hanya ucapan terima kasih banyak yang bisa saya berikan, semoga Allah membalas kebaikan dan kejujuran RM Ayam Bakar Wong Solo, wabil khusus untuk mas Rahmat yang mengamankan hp saya yang ketinggalan di meja makan. Jazakumullah khairan katsiran, semoga terus bertambah banyak orang-orang jujur, aamiin.

Wisma Hijau Depok, 18 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s