Cerita Ta’aruf (Ikhwan Version)


4 November 2011
Melalui perantara sms saya menghubungi mbak AM, teman kerja dari akhwat tersebut, untuk menanyakan beragam hal. Dari jawaban-jawaban yang diberikan temannya tersebut saya semakin yakin dengan ikhtiar saya, dan dari temannya itu pula akhirnya saya mengenal mbak SF. Karena ustadzah/murabbiyah (guru ngaji perempuan) akhwat tersebut sedang sibuk dengan studi S2 nya, akhirnya mbak SF dan ustadz/murabbi saya (guru ngaji laki-laki) yang menjadi perantara ta’aruf kami.

28 November 2011
Sungguh betul betul alhamdulillah tak lama setelah saya menyampaikan niat saya untuk ta’aruf dengan akhwat itu, sang akhwat ternyata ada rencana perjalanan dinas kantor ke Bandung. Dan syukurnya lagi dari kantornya ia ditugaskan akan berangkat bersama mbak SF. Saya langsung mengkomunikasikan ke murabbi saya tentang rencana ta’aruf di Bandung.
Saya mulai mengecek jadwal keberangkatan kereta Argo Parahyangan, karena ustadz pengennya naik kereta aja ke Bandung supaya bisa sambil membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan beliau, ternyata sudah tidak memungkinkan lagi untuk menggunakan jasa angkutan massal tersebut, saya pun kemudian langsung memesan (booking) travel Cipaganti yang didekat kostku untuk keberangkatan malam.
Pulang dari kantor saya langsung bergegas menuju kost untuk ganti baju dan menyiapkan seragam kerja besok untuk dibawa, karena besok harinya dari Bandung saya akan langsung masuk kantor. Lewat tengah malam alhamdulillah kami tiba di kota Bandung tepatnya di Jalan Pelajar Pejuang Bandung, lalu segera menuju tempat menginap untuk istirahat sejenak menanti esok pagi.

29 November 2011
Alhamdulillah meskipun cuma istirahat beberapa jam saya bisa terbangun sebelum masuk waktu subuh, waktu mustajab tersebut saya manfaatkan untuk segera berwudhu dan shalat istikharah + shalat tahajjud, sembari berharap semoga peristiwa penting yang akan saya hadapi pagi hari nanti diberkahi dan diridhai Allah SWT.
Sehabis shalat shubuh berjamaah dengan ustadzku di kamar, kami segera bersiap-siap menuju sebuah tempat yang telah disepakati dengan pihak akhwatnya. Nasi goreng telor yang menjadi menu sarapan pagi kami sudah cukup untuk mengisi energi kami guna mengawali hari selasa yang bersejarah itu.
Kami pun langsung check out dari tempat menginap, dan karena jarak yang tidak terlalu jauh, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel tempat pihak akhwatnya menginap, hmmm… udara segar pagi hari kota Bandung semakin menambah semangat, memantapkan langkah, dan menggelorakan jiwa (we are comiiing…bismillah…).
Hotel itu sudah tidak asing bagiku, karena kantor saya pernah mengadakan kegiatan disana, alhasil untuk menuju mushollah hotel tersebut kami tak perlu tanya sana-sini lagi.Setiba di tempat itu, ustadzku langsung menghubungi mbak SF untuk memberi tahu kalau kami sudah tiba, tak lama akhwat itu dan mbak SF pun tiba di mushollah yang bernamamushollah Al Barokah itu.
Wah sedikit gugup bercampur beragam perasaaan langsung menghantuiku, ustadzku kemudian coba mencairkan suasana itu, majelis ta’aruf pun dimulai di teras luar mushollah itu, sayangnya suasana berisik suara kendaraan di tempat parkiran yang terletak di sebelah mushollah membuat rasa tak nyaman, saya pun langsung kasih saran ke ustadz bagaimana kalau tempatnya pindah ke dalam mushollah. Alhamdulillah permintaan di acc, ta’aruf pun lantas berlanjut di dalam ruangan mushollah bagian belakang dengan suasana yang jauh lebih baik sehingga membuat rasa tenang di hati.
Ustadz langsung memandu proses ta’aruf kami, pertanyaan demi pertanyaan dari ustadzku mengawali diskusi kami pagi itu, dan kemudian tiba giliranku untuk buka suara, saya menanyakan beragam hal kepada akhwat itu, setelah sebelumnya sudah sedikit mengenal akhwat itu dari biodatanya. Pertanyaan mengenai niat menikah, keluarga, pekerjaan, pacaran, dll disambut dengan jawaban oleh akhwat itu, meskipun kemudian ada satu pertanyaan yang jawabannya di pending(jadi PR deh), ta’aruf yang berlangsung lebih kurang 1 jam itu boleh dikatakan berjalan lancar.
Setelah ta’aruf ustadz lanjut menanyakan kepada saya butuh berapa waktu untuk kemudian memberi jawaban tentang kelanjutan proses kami, lanjut atau tidaknya. Setelah berpikir sejenak saya kemudian memutuskan akan memberi jawaban tentang kelanjutan proses ini 3-4 minggu ke depan.
Setelah itu saya dan ustadzku langsung pamit pulang dan segera meninggalkan mushollah, belum sempat keluar mushollah mbak SF memanggil saya kembali, eh ternyata hp saya ketinggalan di lantai (hehe…maklum penyakit lupanya lagi kumat), hp itu sengaja saya geletakkan untuk merekam obrolan kami pagi itu, tapi sayangnya setelah saya cek, ternyata perekamnya belum dijalankan, mungkin gara-gara suasana berisik di awal tadi jadinya lupa untuk menghidupkan perekamnya (huftt…ya sudahlah ).
Dengan perasaan lega telah melewati fase ta’aruf yang mendebarkan itu,pukul 9 pagi saya bersama ustadz kembali pulang ke Jakarta.

23 Desember 2011
“Faidzaa ‘azamta fatawakkal’ alallaah : Dan ketika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah…”, begitulah bunyi status facebook saya mengawali hari jum’at 23 Desember 2011, hari yang saya rencanakan sebagai waktu yang tepat untuk menyampaikan ke ustadz tentang kelanjutan proses ta’aruf waktu itu.
Siang harinya ba’da shalat jum’at saya menelpon ustadz, setelah melalui istikharah yang saya tekadkan tiap hari saya lakukan akhirnya saya menyampaikan ke beliau insya Allah yakin akan melanjutkan proses kami ke tahap selanjutnya. Dan bak gayung bersambut di hari yang sama pula saya mendapat sms dari ustadz yang isinya, “Asw. Akhwatnya mantap lanjut.”, Alhamdulillah…semoga Allah berkahi langkah ini  .

31 Desember 2011
Saya mengajak kedua orang tuaku untuk main ke tempatku di Jakarta, kebetulan mereka berdua memang sedang liburan sekolah, Alhamdulillah mereka pun bersedia dan bisa.Hari-hari pertama di Jakarta saya mengajak mereka jalan, rekreasi guna menghilangkan kepenatan mereka yang aktivitas hariannya biasa disibukkan dengan mengajar siswa-siswanya.
Mereka pun sempat main ke Bandung untuk silaturrahim bertemu adiknya ibu yang memang sudah menetap di Bandung.

2 Januari 2012
Malam hari sebelum besoknya mereka harus kembali ke Palembang, barulah saya menyampaikan niat dan rencana saya untuk menikah kepada mereka berdua, walaupun jujur saya bingung harus ngomong apa dulu, akhirnya kata-kata itu mengalir saja keluar dari mulut ini, Alhamdulillah mereka merespon positif niat saya itu, lalu hujan pun turun menemani obrolan tengah malam kami mengenai rencana saya itu (Semoga hujan pertanda ridho-Mu ya rabb, aamiin…).

4 Maret 2012
Ba’da shalat subuh saya bersama keluarga bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah akhwat tersebut, jarak rumah saya dengan dia lumayan jauh, butuh lebih kurang 2 jam perjalanan. Ini bukan sekedar silaturrahim antar dua keluarga, namun hari ini saya telah membulatkan niat menguatkan azzam untuk mengkhitbah (melamar) akhwat itu. Saya ditemani kedua orang tua saya dan nenek saya.
Lebih kurang pukul 9 pagi kami tiba di rumah akhwat itu di sekitaran Sako, Perumnas. Kedatangan kami langsung disambut hangat oleh kedua orang tua akhwat itu, lalu tak lama berselang seorang perempuan berjilbab keluar turut menyambut kedatangan kami. Jreng…jreng..dag dig dug duer..dialah akhwat itu, ini boleh dibilang kali ketiga kami bertemu setelah pertemuan pertama yang tak disengaja saat saya sedang melakukan perjalanan dinas ke kantor tempat dia bekerja, lalu yang kedua saat kami ta’aruf di Bandung, dan hari ini pun dengan kekuasaan-Nya kami kembali dipertemukan, semoga Allah ridhai untuk berlanjut ke pertemuan selanjutnya di pelaminan penuh keberkahan, Aamiin allahumma aamiin.
Keluarga kami yang sebelumnya memang telah saling mengenal terlihat akrab berbincang, dulu waktu saya masih SMP rumah nenek saya persis di depan rumah akhwat itu, jadi dulu ketika liburan sekolah saya bersama orang tua biasanya liburan ke rumah nenek saya itu, jadinya ya kenal, ya itulah asal muasal kenapa keluarga kami saling mengenal.
Kembali ke khitbah…
Perbincangan lebih didominasi oleh orang tua kami, karena memang lebih banyak bicara tentang perencanaan tahap selanjutnya hubungan kami, dan Alhamdulillah keluarga kami sepakat pernikahan kami insya Allah akan dilaksanakan bulan Mei 2012.
Karena jam 12 siang saya harus ke pool bus yang akan membawa saya kembali ke Jakarta, silaturrahim kami jadinya tidak bisa lama-lama, Alhamdulillah sebelum pulang kami makan siang bersama di rumah akhwat itu, menunya pun spesial, kalau tadi waktu bincang-bincang di ruang tamu ada beragam pempek dengan cuko pedasnya menemani percakapan kami, untuk makan siangnya masih dengan suasana kuliner Palembang, Nasi Pindang yang rasonyo leemaaak niaan (baca : enak sekali) , mantap maknyusss,Alhamdulillah.
Saat tiba di pool bus saya langsung masuk ke dalam bus, karena memang bus akansegera berangkat menyeberangi selat Sunda menuju pulau Jawa. Saya pun berpamitan dengan kedua orang tua saya juga kedua orang tuanya dan tak lupa ke nenek saya serta pamit ke akhwat itu, seorang akhwat yang semoga Allah benar-benar jadikan pasangan terbaik hamba di dunia dan akhirat, Aamiin.
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Engkau Rabb Tuhan semesta Alam, sungguh begitu banyak nikmat-Mu begitu indah skenario-MU, padahal kalau dihitung-hitung masih jauh rasanya ketaatan hamba pada-Mu, ampuni hamba ya Rabb, sungguh hamba akanselalu berazzam mengkhidmatkan hidup hamba hanya untuk Engkau Allah rabbul ‘alamin.
~ subhanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahukbar ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s