Cerita Ta’aruf (Akhwat Version)


27 November 2011

Hari Ahad pagi, mbak SF teman satu kantorku tiba-tiba meminta saya untuk datang ke rumahnya.Meskipun  sedikit bingung saya langsung katakan iya. Sekitar jam 2 siang, dengan rasa penasaran saya segera meluncur ke rumah mbak SF. Setelah sampai di rumahnya, tanpa basa basi mbak SFlangsung menyerahkan sebuah ampop besar berwarna coklat. Sambil senyum-senyum beliau bilang, “Mau dibuka sekarang atau di rumah terserah Vita.”Saya  berfikir sejenak, karena saya orang yang tidak bisa dibuat penasaran, akhirnya:

“Bismillah” (dalam hati), perlahan saya tarik isi amplop itu dan ternyata…. sebuah biodata, dan pemilik biodata tersebut adalah seseorang yang namanya sudah tak asing bagiku, dengan inisial “SW”.DIAM, itulah ekspresi yang pertama kali muncul saat saya mengetahui isi amplop itu.

“Dia mau ta’aruf sama Vita, harusnya melalui Ummi sebagai murobbiyah Vita, tapi karena Ummi sekarang lagi sibuk S2 dan ikhwannya juga jauh jadi beliau menyerahkannya ke mbak, supaya lebih mudah.”jelas mbak SF.

Saya hanya mengangguk, masih membolak-balik biodata yang ada ditanganku (Dalam hati lagi, “Nih biodata banyak banget, 9 lembar, emang sih sekitar 2 minggu yang lalu mbak SFjg pernah meminta saya untuk mengisi biodata, tapi rasanya cuma 2 lembar J). Mungkin karena melihat saya yang tampak bingung dan ragu, mbak SF langsung berkata, “Dicoba aja dulu dipertimbangkan, mbak jg cerita sama ikhwannya tentang rencana kita dinas ke Bandung besok, jadi  kalau bisa ta’arufnya di sana. Vita istikharah dulu aja malam ini.”

APAAA…besok? Masya Allah, saya betul-betul kaget, secepat itukah?

“Ya udah mbak, Vita coba pikirkan dulu.Nanti kalau sudah ada keputusan Vita kabari”, jawabku.

Saya pun pamit pulang.Segala macam perasaan ada di hatiku saat itu. Bingung, cemas, takut, tapi jg senang semuanya bercampur jadi satu membuat ekspresi wajah jadi tidak menentu, kadang senyum, kadang cemberut, kadang bengong (semoga tak ada yang perhatiin J).

Pikiranku kembali ke masa itu. Ya Allah, siapa yang pernah menduga jika cucu dari uwak yang dulu pernah tinggal di depan rumahku, yang sering main bersama waktu liburan sekolah mau berta’aruf denganku. Setelah uwak pindah rumah, kami memang tak pernah bertemu lagi sampai di bulan April tahun 2011 lalu, saat ia dinas ke kantorku.

(Alhamdulillah ya Allah, semoga ini awal dari kebahagiaan yang telah lama kunantikan…Aamiin…)

28 November 2011

“Aslm.Mbak, setelah Vita pertimbangkan dan setelah istikharah semalam, Vita putuskan untuk bersedia ta’aruf.”Seperti itulah isi sms yang saya kirimkan ke mbak SFdi pagi itu. Iya, setelah semalaman kupandangi dan kubaca berulang-ulang biodatanya, curhat ke mama yang disambutnya dengan rasa gembira dan penuh semangat, serta istikharah tentunya, akhirnya  saya memutuskan untuk ta’aruf dengannya.

Selagi menunggu penerbangan di bandara SMB II, mbak SF ngasih kabar kalau pihak ikhwannya ingin biodata yang lebih lengkap,sama seperti yang ia buat, sebelum proses ta’aruf dilaksanakan, katanya supaya gak banyak tanya lagi nantinya. Waduh, saya bingung lagi, rasanya tidak mungkin kalau mau nyusun proposal sekarang, gimana nih???

Tetapi akhirnya, Alhamdulillah, ternyata saya diberi kesempatan untuk membuat biodata nanti setelah proses ta’aruf…Huff…Legaaaa…

29 November 2011

“Vita, ta’arufnya jam 7.00 di mushollah Hotel, mereka sampai di Bandung jam 1 malam tadi, katanya menginap di penginapan dekat sini”, jelas mbak SF. Saya hanya mengangguk, tiba-tiba detak jantung menjadi tidak normal, pertanda rasa CEMAS dan GUGUP mulai menyerang. Saya bertanya-tanya sedikit ke mbak SF, biasanya pertanyaan apa saja yang sering diajukan ikhwan ketika ta’aruf. “Macam-macam, ada yang tidak terlalu banyak tanya, kalau yang agak kritis biasanya nanya visi misi nikah, dsb” jawab mbak SF. Ya Allah, saya betul-betul cemas. Akhirnya, sebelum turun ke mushollah, saya sempatkan diri untuk sholat hajat, memohon agar Allah memberikemudahan dalam proses ta’aruf nanti.

Pukul 7.00 WIB, kami turun mencari mushollah yang dimaksud, dan ternyata letaknya di area parkir bawah gedung (yang ternyata sangat berpengaruh terhadap proses ta’aruf nanti, singkatnya: BISING!!!J). Saya perhatikan papan nama mushollah itu, AL-BAROKAH, Ya Allah, semoga betul-betul dapat mendatangkan barokah bagi kami semua (Aamiin, do’aku dalam hati). Dengan ragu dan sedikit celingak celinguk kami mencari-cari orang yang dimaksud, ternyata mereka duduk di sudut teras luar mushollah.Dan akhirnya, pertemuan yang menegangkan juga mendebarkan pun dimulai.

Ya Allah sungguh tidak berani rasanya saat mbak SFdan ustadznya menyuruh kami untuk duduk berhadapan, malu, ingin rasanya saya berkipas karena rasa “panas”yang menjalar sampai ke wajahku. Astaghfirullah, akhirnya saya tetap memilih untuk duduk di belakang punggung mbak SF(Aman, hehe).

Acara perkenalan pun di mulai, dan lagi-lagi rasa cemas dan gugup kembali melanda. Ada banyak pertanyaan mulai dari soal keluarga, tarbiyah, pekerjaan, tujuan menikah, masalah pacaran (paling semangat waktu menjawab pertanyaan ini, I said NEVER.. J), dan sebagainya. Akan tetapi  Ya allah, begitu sulitnya mengkoneksikan antara otak, hati dan mulut. Semua terasa kacau, saya menjawab dengan begitu kaku sampai berkeringat dingin. Bahkan ada satu pertanyaan yang terpaksa di pending gara-gara saya kelewat gugup.Astaghfirullah, saya merasa sangat kacau dan takut.

Akhirnya, pertemuan yang lebih kurang 1 jam itu (hanya 1 jam, tapi bagi saya terasa begitu lama) berakhir.Ustadz menanyakan kepada kami kapan keputusannya, mau lanjut atau tidak.Akhirnya sang ikhwan meminta waktu 3 sampai 4 minggu untuk mempertimbangkan. Saya setuju saja. 3 – 4 minggu waktu yang akan kami gunakan untuk memantapkan diri.

Mereka pun berpamitan untuk pulang dan tak lama kemudian saya dan mbak SFpun beranjak pergi meninggalkan mushollah yang penuh kenangan.

Setelah pulang kembali ke Palembang, saya segera mengerjakan Pe-eR yang belum terselesaikan, yaitu membuat biodata/proposal  yang lebih lengkap dan menjawab pertanyaan yang belum terjawab (tentang muslimah, lancar banget nulisnya bebas hambatan, hmm dasar, hehe).

23 Desember 2011

Mbak SF menemuiku di mushollah ba’da dzuhur dan menyampaikan kabar yang membuatku sangat terkejut sekaligus bahagia. “Alhamdulillah Vita, ikhwannya mau lanjut ke proses selanjutnya. Vitanya gimana? Masih selalu istikharah kan?” Tanya mbak SFsiang itu.

“Iya mbak masih, Vita harus jawab sekarang ya?”

“Kalau bisa ya sekarang.”

“Mbak, jawaban dari istikharah itu apa harus lewat mimpi?”

“Tidak juga, bisa juga dengan adanya rasa ketenangan atau kemantapan hati.”

Jawaban itulah yang membuat saya yakin – walaupun di awal masa penantian itu ada begitu banyak pikiran yang mengganggu saya, terutama rasa tidak Pe-De.Tapi, bukankah memang tak ada orang yang sempurna, yang penting terus saja perbaiki diri – dan akhirnya saya pun menyatakan ingin lanjut.

Alhamdulillah… saya bersujud syukur dan menangis haru. Alhamdulillah ya Allah, mohon mudahkankanlah langkah kami…

Setelah kami memutuskan untuk lanjut, Alhamdulillah, baik kedua orang tuaku maupun orangtuanya merestui niat baik kami. Ya Allah, semakin bertambah kebahagiaanku…

4 Maret 2012

Hari yang sangat saya tunggu pun tiba, setelah menanti kepastian yang cukup lama akhirnya hari ini ia akan datang bersama keluarganya untuk mengkhitbahku. Sekitar jam 9 lebih, mereka tiba di rumahku. Bahagia sekali rasanya bisa bersilaturrahim dengan keluarganya yang sebetulnya sudah saling kenal.Acara lamaran pun berlangsung santai dan lebih didominasi oleh percakapan orang tua tentang rencana pernikahan kami. Akhirnya disimpulkan bahwa kami akan melangsungkan pernikahan insya Allah pada bulan Mei 2012. Alhamdulillah…

Selesai acara lamaran, ternyata siangnya si ikhwan harus segera berangkat kembali ke Jakarta. Keluarga saya memutuskan untuk mengantarnya ke loket bus antar kota di Km 11. Sesampai di sana, ternyata busnya telah siap berangkat. Ia pun segera berpamitan dengan keluarganya dan kedua orang tuaku, lalu segera masuk ke dalam bus. Bus pun mulai berjalan pelan dan membawanya pergi, membawa lelaki yang hanya dengan izinMu ya Allah, hanya dengan kehendakMu semoga dapat Engkau pertemukan kembali denganku di hari dimana janji suci itu akan terucap. Aamiin Allahumma Aamiin…

Ya Allah, Engkau begitu baik kepadaku…
Padahal begitu banyak kekhilafan yang telah hamba lakukan
Kelalaian yang telah hamba perbuat
Namun, engkau masih menyanyangiku
Masih mengabulkan segala permohonanku
Bahkan permohonan terbesar yang sangat hamba harapkan

Ya Allah, hamba terus memohon yang terbaik dariMu
Apabila rencana kami ini juga adalah rencana terbaikMu untuk kami
Mohon mudahkanlah dan lancarkanlah ya Allah jalan kami
Untuk menggenapkan sebagian dari agama kami
Dan untuk meraih keridhoan dariMu ya Rabb.
Aamiinnn

One thought on “Cerita Ta’aruf (Akhwat Version)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s