Menjelajah Kota Bandung “Everlasting Beauty”


Pukul 07.00 am

Meluncur  menuju stasiun Jatinegara yang terletak tidak jauh dari kos saya sekarang, sampai di stasiun ternyata loket kereta Argo Parahyangan tujuan Jakarta-Bandung masih belum dibuka, barulah sekitar pukul 07.30 petugasnya membuka tirai di balik kaca loket itu dan kemudian segera melayani calon penumpang yang mulai mengantri. Alhamdulillah saya akhirnya dapat membeli tiket kelas bisnis yang harganya IDR 30.000, kereta direncanakan berangkat pukul 09.27. Setelah mendapat tiket saya kembali ke kos lagi untuk prepare perjalanan pertama kalinya ini ke Kota Bandung.

Pukul 09.05 am

Saya kembali tiba di Stasiun Jatinegara, suasana stasiun mulai dipadati oleh banyak penumpang dengan tujuan bermacam-macam. Sambil duduk di salah satu tiang saya menunggui kereta yang sepertinya tak lama lagi segera tiba.

Pukul 09.35 am

Akhirnya datang juga kereta yang telah dinanti-nanti semenjak tadi, saya langsung hunting dimana gerbong dan tempat duduk saya, setelah bertanya ke salah satu petugas di stasiun saya kemudian berhasil menemukan tempat duduk saya, sayang ternyata tidak di sebelah jendela, so agak susah untuk melihat panorama di sepanjang perjalanan. Tak lama kemudian lokomotif pun mulai menggerakkan rangkaian gerbong, dengan basmalah petualangan pun dimulai.

Pukul 12.45 pm

Alhamdulillah saya bisa menjejakkan kaki di tanah Bandung tepatnya di stasiun Bandung, keramaiannya tak jauh berbeda dengan stasiun Jatinegara tadi, langit kota kembang hari ini terlihat mendung. Saya langsung mencari mushollah untuk menunaikan shalat dzuhur terlebih dahulu sebelum memulai penjelajahan. Setelah shalat dzuhur rintik hujan gerimis membahasi kota Bandung,  saya kemudian membuka peta kota Bandung yang telah saya persiapkan tadi pagi untuk mulai meraba-raba alur perjalanan saya, setelah sedikit mendapat bayangan saya lalu mencari informasi dengan bertanya ke seorang bapak yang sedang duduk-duduk di luar mushollah untuk menanyakan angkot yang harus saya naiki agar bisa sampe ke 2 target penjelajahan hari ini yakni kampus ITB dan Pesantren Daarut Tauhiid Aa Gym. Dari bapak tersebut saya pun mendapatkan informasinya, tujuan pertama ke kampus ITB. Berdasarkan info dari bapak tadi saya mesti naek angkot warna ungu tujuan Cisitu.

Tak lama menunggu di pinggir jalan luar stasiun, angkot itu pun lewat dan dengan sigap langsung saya kasih kode jari agar dia berhenti. Tak lupa saya bertanya dulu ke sopir angkot apakah benar angkotnya melewati kampus ITB, dan jawabannya ternyata benar, dan saya pun minta kepada pak sopir agar diberhentikan di kampus Ganesha itu. Di sepanjang perjalanan saya menikmati suasana asri kota Kembang dengan masih terus diguyuri rintik gerimis, lalu terlihat pula jembatan fly over yang sepertinya juga menjadi ikon kota ini. Dari dalam angkot saya membaca tulisan Jl. Taman Sari yang menurut peta yang saya bawa kampus ITB berada di jalan ini, dan ternyata tepat, karena tidak berselang lama kemudian pak sopir memberitahu saya bahwa angkot telah tiba di kampus ITB.

Dengan langkah pasti dan ungkapan syukur di dalam hati, karena benar-benar tak menyangka bisa mampir ke kampus yang dulu sempat menjadi impian, walaupun Allah belum memberi kesempatan kuliah disana, minimal bisa jalan-jalan kesana (he..he..). Ternyata di hari libur kampus ITB tetap ramai, baik itu mahasiswanya ataupun pelajar yang sepertinya tengah mengadakan jalan-jalan juga. Tujuan pertama saya ke masjid Salman ITB, markas para aktivis dakwah kampus ITB, sebuah masjid yang pernah saya lihat di cover buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus.

Subhanallah saya akhirnya bisa menapakkan kaki ke tempat suci tersebut, di teras masjid saya melihat banyak yang sedang membuat lingkaran-lingkaran baik ikhwan (laki-laki) atau akhwat (perempuan) sepertinya mereka sedang mentoring. Saya menyempatkan sejenak shalat tahiyyatul masjid, dan tilawah Al Quran.

Byuur…hujan deras membuat kota Bandung terasa semakin dingin, untung saya membawa jaket🙂. Saya keluar masjid dan mencari tempat makan dulu untuk menyantap makan siang, tak jauh dari masjid Salman saya menemukan kantin Salman, sambil menyantap hidangan yang telah tersaji saya membaca tulisan “waktu shalat kantin tutup +- 20 menit”, subhanallah🙂.

Selesai makan hujan masih saja deras mengucurkan airnya, daripada lama menunggu saya memutuskan menyewa payung kepada seorang adik kecil tak jauh dari kantin Salman tadi, saya melanjutkan penjelajahan menuju kampusnya, tepatnya saya ingin mengunjungi  fakultas Teknik Informatika nya, yang dulu saat saya masih bimbel persiapan SPMB, Passing gradenya paling tinggi. Letaknya ternyata cukup jauh dari masjid Salman, bangunannya walaupun arsitekturnya terlihat tua namun begitu kokoh dan tertata rapi.

Pukul 03.00 pm

Menjelang ashar saya kembali ke masjid Salman ITB, saya pun mengembalikan payung yang saya sewa, dan langsung bersiap-siap shalat ashar berjamaah. Walaupun hari libur shaf shalat cukup banyak, mungkin ada sekitar 5 atau 6 shaf. Setelah shalat saya mampir ke toko buku, lalu kemudian meninggalkan kampus ITB untuk menuju tujuan ke 2 pesantren Daarut Tauhiid, namun sebelum mencari angkot menuju DT, saya mesti kembali ke stasiun lagi untuk memesan tiket kereta malam Argo Parahyangan jurusan Jakarta, takutnya kehabisan tiket bisa kacau jadinya.

Dari stasiun kembali saya mencari informasi, dan  informasinya berhasil saya dapatkan, perjalanan ke DT memakan waktu cukup lama, apalagi ditambah karena macet dan hujan yang belum reda juga.

Pukul 05.20 pm

Kembali berucap alhamdulillah karena saya bisa menapakkan kaki di jalan gegerkalong girang, tempat dimana AA Gym, pesantren DT nya, dan jaringan bisnis MQ berpusat. Menjelang magrib saya menuju masjid Daarut Tauhid, jamaahnya begitu ramai. Dan subhanallah tak disangka-sangka ternyata imam shalat magribnya adalah ust. Aa gym, beliau juga sedikit menyampaikan taushiyah singkat ba’da shalat berjamaah tersebut.

Pukul 08.05 pm

Kembali ke Jakarta dengan kereta Argo Parahyangan.

Sungguh pengalaman yang tak akan terlupa dan sangat berkesan, terima kasih ya Rabb🙂

“Fabiayyiaalaa irobbi kumaa tukadzzibaan”

Tiket berangkat ke kota Bandung

Masjid Salman ITB

Kampus Institut Teknologi Bandung

Ust. Aa Gym bersama teh Ninih

Masjid Daarut Tauhiid Bandung

Tiket pulang ke Jakarta

3 thoughts on “Menjelajah Kota Bandung “Everlasting Beauty”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s