Malam Mingguan Bertemu “Si Dia”


Cuaca kota Jakarta yang lembab dan dingin karena memang sering diguyur hujan beberapa hari ini tak menyurutkan keinginan saya tetap pergi ke tempat yang telah direncanakan untuk menemui seseorang yang pastinya akan berarti dalam kehidupan saya, setelah shalat isya berjamaah di masjid Nurus Shobah saya akhirnya bisa pergi, walaupun niatan untuk pergi itu hampir dibatalkan karena saya punya amanah untuk jaga warnet malam itu, tapi syukurlah si Andi rekan kerja sebagai operator warnet mau menggantikan saya duduk bersimpuh di hadapan sebuah monitor menunggui pelanggan yang satu per satu membayarkan sejumlah uang.

Dengan menggunakan jasa mikrolet arah ke Kampung Melayu, saya melesat bersama cepatnya roda mobil bermerek Kijang tersebut. Tak lama saya tiba di tujuan, terminal Kampung Melayu begitulah nama tempat tersebut, sebuah terminal yang berbagai macam kendaraan umum mengantri dan berjejal disana, terletak di bawah kokohnya fly over membuat polusi tambah banyak akibat pembuangan asap dari kendaraan yang begitu banyaknya melewati area itu.

Dari terminal Kampung Melayu saya harus berjalan terlebih dahulu sebelum sampai ke tempat tujuan, menyusuri pinggiran fly over dengan berjalan kaki dalam suasana malam yang syahdu namun tetap ramai karena memang malam minggu yang sebagian orang mengatakannya sebagai malam yang panjang🙂, begitu banyak orang yang mencari hiburan, namun sayangnya begitu banyak orang pula yang salah memilih tempat hiburan, padahal tempat hiburan yang positif masih banyak tersedia.

Seseorang yang dinanti-nanti yang terus saya pikirkan, namanya telah saya ketahui namun malam ini pertemuan pertama kami, akhirnya saya tiba di depan gerbang dan segera masuk ke dalam bangunan cukup megah tersebut dihiasi lampu-lampu yang tertata begitu indahnya, lantainya dari keramik membuat kaki nyaman dalam melangkah, kendaraan berjejer tanda bahwa ada banyak orang telah hadir ke tempat suci itu.

Masjid Al Ihsaniyah nama masjid yang malam ini saya akan menghabiskan waktu malam untuk kembali menjelajah lautan ilmu yang amat luas terbentang yang akan dibahas bersama Ustad Abdul Aziz Abdul Rauf Al Hafiz serta meneguhkan ruhiyah dengan santapan malam yang begitu nikmatnya dalam Tahajjud berjamaah nantinya, setelah meresapi segarnya air wudhu saya kemudian masuk ke dalam ruangan utama masjid. Setelah Ustad Abdul Aziz memaparkan materinya tentang “Tabattul” seorang panitia MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) maju ke depan untuk menyampaikan sesuatu, lalu panitia tersebut langsung mempersilahkan seorang ustad untuk menyampaikan sedikit pengumuman untuk peserta MABIT yang tampaknya hampir mencapai 100 orang ikhwan (laki-laki). Iya nama ustad yang disebut panitia tadi tak asing bagi saya, karena memang saya pernah ditelpon oleh beliau satu minggu yang lalu saat saya hendak pergi ke Metro TV, dan tadi setelah magrib beliau juga sempat sms saya untuk memberitahu tentang adanya kegiatan MABIT, dan memang nama itu yang saya hendak temui saat acara MABIT berlangsung. Namun saya belum berani menemui beliau, karena mungkin beliau sepertinya sedang sibuk mengurusi acara.

Sebelum segera berangkat istirahat tidur, saya menyempatkan terlebih dahulu ke kamar mandi untuk berwudhu kembali, dan ternyata di tempat wudhu itulah pertemuan pertama kami setelah saya telah mengenal wajahnya karena tadi sempat memberikan pengarahan, saya memberanikan diri menegur beliau duluan, “Ustad XXX ya (maaf namanya nggak boleh saya sebut, he..he..)?”, tanya saya pendek, dan pertanyaan saya langsung direspon baik dan benar dalam dua kata oleh ustad, “Satriawan ya?”, begitulah tanggapan ustad tanpa menjawab pertanyaan saya pertama tadi. Lalu kami kemudian kami melanjutkan obrolan di masjid menanyakan tentang berbagai hal sebelum nantinya kami akan rutin seminggu sekali bertemu beliau dalam lingkaran-lingkaran halaqah (pengajian).

Ustad tadi adalah Sang Murabbi, Murabbi saya yang akan menebarkan ilmunya kepada mutarabbi-nya termasuk saya salah satu mutarabbi-nya, setelah hampir satu bulan surat mutasi (transfer) saya diproses, akhirnya saya bertemu Sang Murabbi.

DO’A SANG MURABBI

*********************

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan

Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

Oleh : Allahuyarham Ustad Rahmat Abdullah

Jakarta, 7 Februari 2010

2 thoughts on “Malam Mingguan Bertemu “Si Dia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s