MABIT Masjid At Taqwa : Petualangan Malam Sang Pencari Ilmu


Ba’da shalat magrib saya meninggalkan rumah kos untuk menuju masjid At Taqwa Pasar Minggu Jakarta Selatan, di masjid itu malam ini akan diadakan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) bersama Prof.DR.Agus Priyono (Dosen Institut Sains Teknologi Nasional). Tak lama setelah keluar rumah cuaca yang memang mendung mulai mengucurkan butiran air hujan, mulanya gerimis tapi akhirnya semakin deras, untung saat deras saya sudah duduk di bangku mikrolet M16 tujuan Kampung Melayu – Pasar Minggu.

Perburuan Masjid At Taqwa

Di perjalanan itu feeling saya sudah yakin tempat dimana saya akan berhenti yaitu masjid At Taqwa walaupun malam ini kali keduanya saya jalan ke daerah Pasar Minggu, namun kali pertama saya berjalan ke daerah sana saya sudah pernah shalat di sebuah masjid yang seingat saya masjid itu bernama masjid At Taqwa, walaupun demikian sebenarnya hati saya agak ragu sedikit sih karena saya agak lupa-lupa ingat apakah masjid yang pernah saya singgahi di Pasar Minggu tersebut adalah benar-benar masjid At Taqwa tempat yang malam ini akan diselenggarakan acara yang akan melegakan kehausan ruhani akan asupan ilmu. Karena diguyur hujan dan suasana malam yang cukup gelap di dalam mikrolet saya agak susah melihat ke sekitar sehingga membuat saya was-was takut kelewatan alamat yang hendak dituju. “Kiri bang”, ucap saya di tengah derai hujan saat roda mobil masih berputar, teriakan saya itu membuat roda mobil pelan-pelan melambat hingga akhirnya berhenti di atas sedikit genangan air yang mulai membuat banjir kota Jakarta. Saya berhenti saat melihat masjid yang saya perkirakan masjid tempat dimana saya pernah singgah itu, namun ternyata karena kurang jelas melihat masjid tersebut bukan masjid yang saya maksud, tetapi karena tidak lama setelah saya turun dari mikrolet adzan isya berkumandang saya akhinya menunda pemburuan masjid, lalu kemudian segera mengambil wudhu untuk menunaikan shalat isya berjamaah di masjid yang pada akhirnya saya tahu bernama masjid Ikhwanul Muslimin.

Setelah shalat saat hendak melangkahkan kaki keluar masjid karena rasa ragu yang menyelimuti hati saya memutuskan bertanya ke salah satu jamaah di masjid tersebut, menanyakan dimana letak masjid At Taqwa, dari jawaban jamaah tersebut saya mendapat informasi bahwasannya masjid yang saya maksud itu terletak tak jauh dari masjid Ikhwanul Muslimin, lebih tepatnya ia katakan di lorong kedua ke arah sebelah kiri masjid, masuk saja nanti ada lapangan, nah di sebelah lapangan itu masjidnya, kata beliau tadi. Dan ternyata inilah awal mula petualangan malam itu dimulai sehingga harus membuat saya gonta-ganti mikrolet tanya sana-sini sebelum benar-benar sampai ke tujuan. Namun bukan berarti saya tidak senang dengan satu jamaah tadi, saya tetap berkhusnudzan saja beliau tadi juga khilaf salah memberikan informasi. Saya pun mendapat pelajaran yang cukup berharga bahwa ternyata mencari informasi itu harus dari banyak sumber, karena jika tidak bisa saja kita akan mengikuti sumber informasi yang salah, sehingga membuat kita juga ikut tersesat🙂.

Dari informasi yang saya dapati tadi saya pun berjalan menyusuri trotoar jalan, ditemani hilir mudik kendaraan yang masih lumayan ramai, diterangi lampu-lampu jalan yang sinarnya kuning terang, dan yang paling terasa diguyuri rintik-rintik air hujan dari gelapnya langit malam Jakarta. Saya tiba di tempat yang dimaksud tadi, dua lorong arah sebelah kiri masjid, dan memang benar saya melihat tanda-tanda bahwa ada masjid disitu karena di depan lorong tersebut terpampang spanduk masjid, namun hati saya menjadi ciut saat kedua bola mata menatap dua kata bertuliskan Masjid Al Hidayah😦. Dengan masih berpositive thinking yang tampaknya tidak masuk akal saya mencoba melangkah masuk ke lorong tersebut mudah-mudahan saja memang ada dua masjid masjid Al Hidayah dan masjid At Taqwa yang saya cari. 100 meter sandal saya mencium aspal lorong itu saya terhalang oleh genangan air yang membuat saya membatalkan spekulasi saya tadi. Saya kembali berjalan keluar lorong, sambil melihat-lihat ke sekeliling, lalu saya mampir dahulu ke sebuah tempat untuk memohon petunjuk jalan kepada mbah Google. Dari situs Wikimapia saya memang sepertinya sudah berada di kawasan yang tak jauh dari masjid At Taqwa, namun gambaran dari situs penyedia peta itu masih belum melegakan hati, kemudian saya bertanya kembali dengan mbak-mbak di warnet itu, dan saya tidak menanyakan letak masjid At Taqwa, melainkan menanyakan dimana letak SD 07, sebuah SD yang kalau saya lihat di peta online tadi tepat berada bersebrangan dengan masjid At Taqwa. Mbak itu bilang katanya kalau mau ke SD 07 bisa naik mikrolet M16 lalu berhenti di PBB, berjalan kaki sedikit nanti sampai ke SD 07. Perintah dari mbak itu saya turuti, saya naik mikrolet M16, di dalam mkrolet saya berpikir PBB itu apa, waduh saya lupa memastikan apa itu PBB, kalau di dalam benak saya PBB itu yang kantor PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) yang mungkin ada perwakilannya di Indonesia.  Di mikrolet saya titip pesan ke bang sopir untuk memberhentikan saya di PBB, lalu saat mikrolet sudah berada di kawasan stasiun Kalibata, saya kembali mengingatkan ke bang sopir apakah PBB masih belum lewat, namun jawabannya tak sesuai harapan, dia bilang sudah lewat dan lupa berhenti, saya pun turun di sekitar stasiun Kalibata itu untuk putar balik lagi ke arah Pasar Minggu. Sebelum naik mikrolet M16 lagi saya bertanya dulu ke sopirnya apakah lewat PBB, dan jawabannya macam-macam ada yang nggak tahu, ada yang katakan PBB itu kantor Pajak Bumi dan Bangunan, lalu ada juga yang menjawab iya lewat, jawaban yang terakhir itu saya dengar setelah saya sudah berada di mikroletnya, dan diapun menunjuk tempat yang dimaksud, eh ternyata arah tunjukan jari telunjuknya itu mengarah ke plang bertuliskan Departemen Dalam Negeri, salah lagi..salah lagi..saya tetap saja belum mau berhenti sambil melihat ke kiri dan ke kanan membaca satu demi satu label-label yang ada di perkantoran yang saya lewati, dan kemudian saya kembali berspekulasi stop di lorong yang terdapat plang DPP PKB. Dalam hati saya berpikir mungkin ini yang dimaksud mbak di warnet tadi, karena saking banyaknya partai dia mungkin tertukar menyebutkan PKB menjadi PBB, he..he..itu sih pikiran saya saja🙂. Melangkah masuk lorong saya kembali bertanya ke seseorang yang sedang tampak membersihkan motornya di pinggir jalan, “Mas SD 07 disini ya”, tanya saya, “iya benar, nanti kamu setelah gereja belok kanan”, alhamdulillah ucapku dalam hati setelah mendengar kabar baik itu kemudian saya mengucapkan terima kasih. Dengan langkah pasti saya kembal menyusuri jalan, dan benar ada gereja, saya langsung memutar ke arah kanan jalan, lumayan jauh masuk saya kembali berhenti di sebuah gerobak yang sedang berjualan, saya kembali bertanya ke yang jaga, “Pak SD 07 disini ya?”, “kamu dari mana, mau nemuin siapa”, jawaban itu saya tanggapi dengan menyebutkan asal saya dari Kampung Melayu mau ke masjid At Taqwa karena ada acara. Kemudian jawaban yang mengecewakan kembali terlontar ke saya, bapak itu bilang, “disini tidak ada masjid adanya mushollah, dan kalau SD 07 ya ini sambil menunjuk ke belakang gerobaknya”. Wah salah dibuat cukup bingung padahal sudah jelas di peta online tadi SD 07 bersebrangan dengan masjid At Taqwa, dan akhirnya setelah melanjutkan obrolan dengan bapak tadi saya sadar sepertinya SD 07 yang saya tuju adalah SD 07 Pasar Minggu, bukan SD 07 Kalibata tempat dimana saya berdiri sekarang.

Saya kembali memutuskan naik mikrolet M16 kembali dan mencoba menuju tempat yang sebenarnya sedari awal kuat feeling saya mengatakan disanalah masjid At Taqwa, dan saya berhenti di tempat yang saya maksud, sebuah masjid dimana saya pernah mampir untuk shalat dhuha. Saya menyebrang jalan, bola mata saya berputar menyelidik, hingga akhirnya tatapan saya mendapati tulisan Masjid At Taqwa, perburuan dinyatakan selesai🙂.

Taujih Ustad Prof.DR.Agus Priyono : Berbicara Iman dan Islam

Setelah sejenak shalat tahiyyatul masjid, saya pun mendekatkan diri ke jamaah yang lain yang mulai ramai di masjid tersebut mendengarkan taujih (nasehat/ ceramah) dari seorang ustad. Melihat ke arah depan dua orang tengah duduk bersampingan di atas kursi, tampaknya dua orang itu mengingatkan saya waktu sebulan yang lalu saat mereka berdua tengah duduk di depan juga di masjid Al Ghazali Bukit Besar Palembang, Ustad Agus Priyono narasumber  dan Ustad Fadhyl sebagai moderator, mereka berdua memang pernah mengisi acara yang sejenis di Palembang sekitar satu bulan yang lewat.

Di awal taujihnya ustad mengatakan tema taujihnya adalah membahas tentang iman dan islam. Dan beliau katakan salah satu makna dari “ilaa” dalam kalimat tauhid Laailaahaillallah adalah mengandung makna sebuah kerinduan/ kecintaan. Beliau analogikan apabila seseorang suami telah mencintai istrinya, jangankan sampai membuat istrinya marah, istrinya diam saja maka ia akan gelisah, nah bagaimana kecintaan kita dengan Allah apakah sudah sebegitu cintanya kita kepada sang Maha Pencipta alam semesta ini.

Lalu beliau bercerita tentang seorang sahabatnya dalam perjuangan mencari cinta sejati, beliau katakan sahabat SMA nya ini telah berpacaran 5 tahun, dan di tahun kelima mereka melewati hari-hari cinta mereka, yang hari demi hari membuat dosa, saat demi saat berbuat maksiat, mereka berdua memutuskan untuk mengikat cintanya dengan pertunangan. Lalu hampir mencapai 7 tahun mereka berpacaran, sang laki-laki teman SMA ustad tadi menemukan cinta sejatinya yakni Allah SWT. Dan pacarnya tadi yang telah ia ikat dengan pertunangan ia putuskan, ia malah memilih segera menikah dengan seorang wanita yang tak ia kenal, seorang akhwat tarbiyah, yang pernikahan itu dilandasi akan kecintaan-Nya pada Sang Khaliq. Proses perkenalan hingga pernikahan mereka berdua hanya memerlukan waktu 2 minggu. Subhanallah begitulah ketika seseorang telah menemukan cinta sejatinya, ia akan tersadarkan bahwasannya jangankan berpelukan, bersentuhan, memikirkan, melihat, membayangkan itu sudah termasuk zina, dan berbicara zina Allah telah jelas menggambarkannya dalam Al Quran Al Isra’ : 32.

Dan cinta mereka dua tadi menimbulkan sebuah konsekuensi bagi sang laki-laki, laki-laki tersebut dikucilkan oleh keluarganya sendiri, dan keluarganya menuduh sang istri tadi telah menyantet suaminya, naudzubillahi min dzalik. Begitulah tatkala iman sedang diuji, ustad juga menggambarkan kisah cinta Ibrahim dengan anaknya Ismail, lalu ustad katakan apakah kita sudah siap menerima ujian seperti itu untuk membuktikan cinta sejati kita. Kisah Ibrahim tadi menjadi kisah penutup dalam taujih tersebut.

Menjelang pukul 3 pagi, kami peserta mabit dibangunkan panitia untuk menunaikan ibadah Qiyamul Lail (Shalat Tahajjud berjamaah) yang di imami oleh ustad Khairul Anwar Al Hafidz, dalam 8 rakaat shalat QL yang kami tunaikan ustad membacakan juz 16 dari awal hingga selesai, lalu shalat QL diakhiri dengan shalat witir 3 rakaat.

4 thoughts on “MABIT Masjid At Taqwa : Petualangan Malam Sang Pencari Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s