Jadi PNS, kenapa tidak ?


Sabtu, 3 Oktober 2009 saya masih ingat betul tanggal itu, disaat saya bersama teman-teman dikumpulkan dalam satu tempat beratapkan tenda-tenda duduk di atas kursi-kursi plastik yang telah disusun sedemikian rupa, kami pun dibuat seragam dengan pakaian sama hanya berlainan sedikit warna, itulah hari wisuda kami di Politeknik Negeri Sriwijaya. Sebuah titik klimaks dari perjuangan berderai peluh dan capek selama tiga tahun, bertabur ukhuwah dan senyum yang tak kan terlupakan.

Ketika itu saya pikir sebagian besar hati-hati yang berada di lapangan itu sedang dirundung resah dan was-was, mau kemanakah setelah wisuda? memang ada sebagian kecil teman-teman saya yang bernasib baik diberikan rezeki pekerjaan sebelum hari wisuda itu, seperti Aan Ade Putra dia diterima di perusahaan minyak Conoco Phillips, Rahmat Andika K bergabung bersama Bank BTPN, dll. Saya pun bertekad harus segera mendapatkan ladang tempat mencari nafkah, hal ini cukup menguras pikiran saya selama berhari-hari, sempat letupan niatan muncul untuk berwirausaha, karena memang sugesti-sugesti usaha sepertinya telah meracuniku dengan virus positifnya, berkali-kali seminar, workshop, dll tentang wirausaha saya ikuti, tibalah untuk aktulisasi dalam bentuk real yang dimanifestasikan dengan berdirinya sebuah usaha, selain wirausaha saya juga mencoba menjadi seorang yang menurut Robert T. Kiyosaki berada di kuadran E atau employee, seorang karyawan/ pekerja. Karena keadaan mengharuskan saya harus segera mempunyai penghasilan, mau minta ke orang tua nggak enak lagi karena kuliah udah selesai. Dan selain mencoba dua hal di atas, saya pun tak kala gesitnya hunting lowongan-lowongan pekerjaan.

Episode Kehidupan 1 : Ikhtiar Membangun Barokah Life Corporation

Barokah Life Corporation (B-LIFE Corp.) adalah sebuah perusahaan impian saya yang kelak suatu saat benar-benar akan menjadi mimpi yang menjadi nyata, tadi sudah saya katakan ketika setelah wisuda muncul juga letupan untuk berwirausaha, dan niatan itu coba saya ikhtiarkan, muncullah ide untuk segera membangun unit usaha dari B-Life yakni warnet B-Life, dan muncul masalah pertama yang cukup klasik yaitu modal, masalah ini pun cukup cepat teratasi karena saya telah terinspirasi dengan kak Aswandi yang mampu mendirikan warnet tanpa modal dari kantong pribadi, bagaimana caranya?, ternyata beliau menggunakan media proposal usaha untuk menggalang dana yang puluhan juta sebagai modal awal warnet. Saya pun mencoba cara itu yang kalau menurut enterpreneur sukses Indonesia Purdi E. Chandra ia namakan BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain). Lebih kurang seminggu mengutak-atik proposal akhirnya proposalnya selesai 90 %, ada sedikit bagian yang belum saya bisa selesaikan karena harus mencari data terkini dahulu, karena baru 90 % proposal itupun otomatis belum bisa disebar ke calon investor yang telah saya rencanakan. Sambil menyiapkan proposal saya juga memikirkan usaha yang lebih simple untuk segera di launching yakni Rental Komputer B-Life, saya berencana akan menggunakan komputer pribadi saya sebagai assetnya, dengan ditambah satu atau dua komputer tambahan pinjeman dari teman, saya pun satu per satu mengirimkan sms ke teman-teman yang kira-kira bisa meminjami saya PC untuk menambahi jumlah PC di rental yang akan saya dirikan. Dan alhamdulillah satu orang sahabat mau menginvestasikan komputernya di Rental Komputer, Aswin Dwiyono teman SMA yang akan berinvestasi 1 unit komputer dan 1 unit printer. Hari berganti hari di rumah telah ada 2 unit komputer sekarang yang menurut saya telah cukup untuk segera membuka rental komputer, tetapi sedikit permasalahan muncul 1 komputer bermasalah sehingga belum bisa dioperasikan, begitu juga dengan printer, dua printer di rumah saya masih sakit-sakitan yang kedua hal ini menyebabkan keinginan saya harus kembali tertunda. Di saat yang sama proposal pendirian usaha warnet pun masih belum selesai, karena tampaknya saya lebih berfokus dulu ke rental komputer. Dan akhirnya kedua rencana ini saya harus tunda dalam waktu yang tak pasti karena saya diterima sebagai PNS.

Episode kehidupan 2 : Mencoba menjemput rezeki dari pintu kuadran E (Employee/ karyawan/ pekerja)

Menjadi seorang karyawan juga harus saya geluti untuk segera punya penghasilan setelah wisuda, karena dari usaha nampaknya butuh waktu untuk bisa berpenghasilan. Jadi sambil menyiapkan usaha di episode kehidupan1 tadi saya juga mencoba bekerja di beberapa tempat. Sebelum hari wisuda saya telah mendapat informasi bahwa Badan Amil Zakat Sumatera Selatan membuka kesempatan untuk menjadi Da’i Zakat dan Fundraiser. Untuk lebih memastkan kabar tersebut saya juga menelpon kak Dedi di Tanjung Raja yang kebetulan beliau telah bekerja di BAZ Sumsel. Dan ternyata memang benar ada lowongan, surat lamaran saya akhirnya tiba di meja pengurus BAZ di kantornya yang terletak di jalan Kapt.A.Rivai Palembang, ada juga teman Bobby namanya yang dia juga melamar di BAZ Sumsel. H -1 Wisuda saya bercerita dengan Bobby, Bobby bilang dia telah mendapat telepon dari pihak BAZ Sumsel untuk melakukan tes berikutnya yakni wawancara, saya pun cukup gelisah di hati, kenapa saya tidak dipanggil, muncul pertanyaan-pertanyaan di benak saya, apakah saya tidak memenuhi kualifikasi, atau IPK saya terlalu kecil, atau karena kelalaian saya menuliskan nomor handphone di surat lamaran. Dan sepertinya kemungkinan terakhir itu yang lebih kuat, karena saya memang lupa menuliskan nomor hp di surat lamaran, tetapi beberapa hari setelah mengantarkan surat lamaran itu saya sudah menghubungi pihak BAZ Sumsel untuk konfirmasi nomor hp saya. Dan tibalah hari yang akan dilakukan tes wawancara untuk peserta tes BAZ Sumsel yang lulus tes administrasi, pagi hari itu saya masih juga belum mendapat telepon panggilan untuk tes wawancara. Hingga saya pun memudarkan hingga menjadi hilang keinginan untuk bekerja di BAZ, hari itu tadi saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk refreshing dulu, dan sebelum saya melangkahkan kaki untuk pergi, hp  saya berbunyi saya kira dari BAZ ternyata bukan, melainkan dari pegawai BAZ-nya yakni Kak Dedi. Kabar dari kak Dedi di melalui telpon itu cukup mengejutkan dan membuat saya cukup panik sedikit, karena kak Dedi mengabarkan saya harus segera datang ke BAZ tes wawancara, karena memang setelah dia lihat nama saya tercantum di list peserta tes wawancara BAZ Sumsel. Saya berpikir sejenak lalu mengambil sebuah kesimpulan berarti pegawai BAZ yang sempat saya telepon setelah beberapa hari mengantarkan surat lamaran lupa menyimpan dengan baik nomor hp saya, hingga saya tidak dihubungi padahal nama saya ada di list peserta tes wawancara. Saya yang tadinya berniat untuk pergi refreshing segera memutar haluan, pakaian santai yang tadinya ingin saya kenakan, langsung berubah menjadi kemeja lengan panjang dikombinasikan dengan celana panjang hitam. Tiba-tiba saya baru teringat saya tidak punya sepatu, beberapa teman coba saya hubungi untuk meminjam sepatu namun hasilnya nihil, saya langsung ke pasar untuk membeli sepatu, namun bukan sepatu kulit/ sepatu kantoran melainkan hanya sepatu cats, karena memang dompet sepertinya belum memungkinkan membeli sepatu kulit. Saya pun nekat hanya menggunakan sepatu cats dalam wawancara BAZ tersebut. Dan waktu pun terus bergulir alhamdulillah saya diterima bekerja di BAZ Sumsel. Dan di skenario lain saat saya masih menunggu panggilan tes wawancara BAZ Sumsel saya dihubungi teman kuliah Mustofa untuk bergabung di Bimbingan Komputer Azzam, alhamdulillah saya juga mengajar beberapa materi komputer di Azzam yakni teknisi komputer dan Office. Dan akhirnya kedua pekerjaan tersebut harus rela saya lepaskan karena saya diterima PNS.

Episode kehidupan 3 : Meraih Mimpi Masa Depan di Departemen Kesehatan RI

Masih ingat betul dalam benak saya saat sepulang dari menemui muzakki (orang yang memberikan zakat) di daerah Plaju saya mampir di sebuah warnet di simpang Pamor Kertapati, di address bar browser yang sedang saya gunakan saya ketikkan huruf dari keyboard komputer bertuliskan http://www.ropeg-depkes.go.id, tak lama halaman yang ingin saya akses tersebut menampilkan isinya, dan ternyata sudah ada, ya betul sudah ada, maksudnya sudah ada pengumuman tentang peserta yang lulus tes ujian tulis CPNS Departemen Kesehatan RI, yang tes tertulis itu telah saya ikuti tanggal 31 Oktober di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Lalu di halaman browser tadi meminta saya meng-input nomor ujian peserta, dengan cepat jari-jemari saya langsung memasukkan kombinasi angka-angka yang ada dalam kartu tanda peserta ujian, setelah itu klik saya tekan tombol yang tersedia di halaman web tersebut, dan tak lama setelah itu langsung muncul kalimat yang membuat hati saya begitu gembira, lebih kurang begini tulisannya “Selamat Anda telah bergabung di Keluarga Besar Departemen Kesehatan Republik Indonesia”. Dengan sangat riangnya keadaan saya waktu itu langsung saya tekan keypad hp untuk menelpon mama, untuk segera mengabarkan kabar gembira di hari itu.

Tahapan selanjutnya selesai saya lakukan yaitu pemberkasan calon CPNS yang bertempat di Kantor pusat Departemen Kesehatan RI di Jl. Rasuna Said Jakarta Pusat. Setelah itu saya harus menunggu SK CPNS saya keluar, jika SK CPNS saya barulah saya akan memulai pekerjaan baru saya sebagai tenaga pranata komputer di kantor pusat Depkes RI. Dan sayangnya hingga tulisan ini saya buat, belum ada kabar berita mengenai SK CPNS itu, saya tetap harus positive thingking karena memang disaat yang bersamaan banyak juga instansi lain yang melakukan penerimaan pegawai baru, sehingga menyebabkan kami harus mengantri di BKN (Badan Kepegawaian Nasional) untuk mendapatkan NIP (Nomor Induk Pegawai). Semoga PNS memang tempat terbaik dari Allah SWT yang diberikannya kepada saya, karena memang dalam do’a-do’a saya selalu saya mohonkan agar Allah meluluskan saya jika itu tempat terbaik, dan memohon jangan diluluskan jika itu tempat yang buruk bagi saya.

Nah berikut ini ada beberapa keuntungan dan kerugian menjadi PNS yang saya ambil dari situs www.calonpns.wordpress.com :

Keuntungan

1. Kemudahan Melanjutkan Studi

2. Waktu Luang Setelah Bekerja

3. Gaji Tetap dan Pensiun

4. Membina relasi

5. Mudah Berpindah Instansi

Kerugian

1. Gaji Pas-Pasan

2. Bekerja seperti Mesin

3. Kepercayaan lebih penting daripada Kemampuan

4. Tidak ada kawan dan lawan abadi

Posted in: pns

One thought on “Jadi PNS, kenapa tidak ?

  1. adlin says:

    Ass.Salam kenal, bung bisa diceritakan kisah selanjutnya dalam menata karier PNS, apa trick dan tipsnya supaya sukses jadi pns, dalam arti sukses secara bathin…bukan hanya fisik. syukron…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s