Sang Penjual Koran yang Menginspirasi


Jarum jam menunjukkan pukul 18.03 WIB, sesaat kemudian suara adzan magrib terdengar dari sebuah masjid yang sepertinya berjarak cukup jauh dari tempatku sekarang berdiri. Saya kemudian melangkahkan kaki ke sebuah mushollah kecil yang berada tak jauh dari toko buku Gramedia A. Rivai untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah tentunya, adzan pun rupanya sedang dikumandangkan dari dalam mushollah yang semenjak dari pertama kali saya sholat disitu hingga saat ini masih belum punya fasilitas yang layak termasuk sound sytem (pengeras suara) sekalipun, mungkin kurang lebih tiga tahun lamanya keadaan mushollah tersebut masih seperti itu-itu saja tak banyak perubahan yang terjadi disana.

hal ini berbeda dengan mushollah satu lagi yang lumayan sering saya hampiri yakni sebuah mushollah kecil yang terletak di lantai 3 sebuah ruko yang berada di depan pasar DIKA, mushollah yang jama’ahnya didominasi pedagang ini karena memang terletak di tengah pasar sudah direnovasi hingga keadaanya sekarang menjadi lebih baik sehingga pada akhirnya akan menambah kenyamanan jama’ah untuk melaksanakan ibadah shalat, sekarang mushollah kecil ini mempunyai tempat wudhu dan kamar mandi yang bersih, sajadah juga begitu terawat, serta dua AC (Air conditioner) juga terpajang di dinding ruangannya, saya katakan terpajang karena memang tiap kali saya shalat disitu perasaan AC nya tidak pernah dihidupkan, hanya kipas angin saja dihidupkan, entah mungkin pengurus mushollahnya sedang melakukan penghematan listrik sepertinya.

Shalat magrib pun selesai, jama’ah satu per satu meninggalkan mushollah dan digantikan pula dengan jama’ah yang baru tiba hendak melaksanakan ibadah wajib kita sebagai ummat muslim. Ketika saya sedang mengenakan sepatu di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu, tumpukkan koran dan beberapa tabloid tergeletak tepat disamping tempat saya duduk, tak lama kemudian seorang lelaki yang saya perkirakan umurnya mungkin antara 35 – 40 tahun mendekat dan duduk, rupanya bapak itu sang penjual Koran tersebut.

Tak lama bapak itu membuka awal obrolan saya, dia memberi tahu saya bahwa imam yang memimpin shalat kami tadi sedikit ada kesalahan pada saat membacakan surat Al Fatihah, tepatnya pada ayat ke 4 surat Al Fatihah, imam tersebut mengucapkan “Ihdinasshiraatal mustakiin” yang mestinya “Ihdinashiraatal mustaqiim”. Dia lalu menanyakan kepada saya apakah saya mendengar hal yang sama ketika shalat tadi, saya baru sadar rupanya saya tadi tidak begitu khusuk sehingga ayat ke 4 itu tak terlalu saya perhatikan. Astaghfirullahal adziiim, ucapku dalam hati, ternyata khusuk memang bukan hal yang mudah bagi saya. Lalu saya bertanya kepada bapak penjual Koran tersebut kenapa ia tidak memberi tahu ke imam tadi tentang kesalahannya, ia lalu mengatakan bahwa ia sudah pernah member tahunya, namun hal itu nampaknya hasilnya sia-sia karena imam yang menurut bapak penjual Koran tersebut sudah sering menjadi imam disana tetap tidak merubah kesalahan bacaannya. Yang terpenting katanya kita sudah memberi tahu, masalah yang diberi tahu mau berubah atau tidak itu bukan lagi menjadi urusan kita begitu kira-kira nasehat yang keluar dari sang bapak bertopi yang tak terlihat mengeluh menjalani jalan hidup yang harus ia tempuh.

Peristiwa sore itu membuat saya berpikir inilah indahnya Islam, saat seorang mukmin diberi rizki ia bersyukur, dan sebaliknya saat kesulitan (cobaan) menempuh ia bersabar. Bapak tadi walaupun rasanya begitu berat skenario kehidupan yang ia perankan, namun ia tak lupa dengan Tuhannya, bahkan saya ternyata masih kalah khusuk dengan beliau tadi. Semoga kejadian ini membuat saya dan kita semua semakin terpacu untuk memperbaiki kualitas ibadah kita, amiiin.

Palembang, 8 Desember 2009

One thought on “Sang Penjual Koran yang Menginspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s