HARI PENDIDIKAN NASIONAL, APAKAH SEKEDAR CEREMONIAL


educationHari ini 2 Mei 2009 di seluruh pelosok negeri dari Sabang sampai Merauke memperingati hari penting yakni Hari Pendidikan Nasional, hari yang selalu diperingati di setiap tahun dengan cara menggelar upacara di setiap instansi pendidikan seperti sekolah, Diknas, dll.

Apakah ini sekedar ceremonial belaka tanpa makna yang berarti bagi kemajuan pendidikan itu sendiri???

Meneropong dunia pendidikan Indonesia sekarang ini, rasanya kita patut bersedih dengan sektor penting ini. Padahal kemajuan bangsa di masa mendatang akan sangat dipertaruhkan oleh generasi mudanya yang sekarang sedang menimba ilmu di sumur-sumur pendidikan baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Ketika generasi muda negeri ini tidak diberikan pendidikan secara benar dan berkualitas tentunya, maka tentulah kemajuan itu akan terasa sangat berat.

Peranan Departemen Pendidikan Nasional sebagai lokomotif gerbong pendidikan Indonesia rasanya belum terlalu menunjukkan prestasi yang membanggakan. Bukannya menjelekkan, tetapi hanya sekedar melihat fakta di lapangan. Sekarang ini di saat kebobrokan Ujian Nasional (UN) kembali terulang, pemerintah khususnya Depdiknas malah mengeluarkan jutaan rupiah uang Negara untuk iklan sekolah gratis. Iklan yang sangat saya yakini bermuatan politis ini bukannya salah, tapi sangat disayangkan momentnya kurang pas. Semestinya pemerintah bisa fokus dulu mencarikan solusi terbaik bagi sistem pendidikan kita khususnya kaitannya dengan Ujian Nasional. Kalau dibiarkan berlarut-larut seperti ini maka guru dan siswa terus akan menjadi korban kebobrokan UN ini, sementara mereka para pejabat Depdiknas tak terlalu berbuat banyak hanya dapat menyaksikan drama UN yang tiap tahun selalu berulang.

Berbicara sekolah gratis sepertinya menjadi topik yang sangat menarik di saat semua kebutuhan hidup sekarang begitu tingginya.Hal ini memang bukanlah hal yang mustahil bagi bangsa kita untuk segera diwujudkan. Menurut informasi yang saya dapatkan sekolah gratis dipelopori oleh dua kabupaten di Indonesia yakni di Jembrangan, Bali dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Pagi tadi topik sekolah gratis ini juga dibahas dalam acara Apa Kabar Indonesia yang ditayangkan salah satu televisi swasta. Menurut pengamat pendidikan Bapak Darmaningtyas yang menjadi narasumber pada acara tersebut, sekolah gratis memang bukanlah sebuah kemustahilan, berdasarkan hitung-hitungan pak Darmaningtyas pendapatan negara kita yang 2/3 nya di dapat dari pajak amatlah cukup merealiasikan hal tersebut, asalkan kata beliau jangan ada pejabat yang mencoba meraup uang-uang tersebut untuk dimasukkan ke kantong pribadi (korupsi). Tapi tentu harapan kita semua nantinya sekolah gratis tetap harus memprioritaskan kualitas.

Kalau di tingkatan sekolah wacana yang beredar adalah sebuah titik kemudahan untuk mendapatkan pendidikan bagi semua kalangan masyarakat dengan di gratiskannya pendidikan, lain lagi kalau kita sedikit menengok ke dunia perguruan tinggi. Sepertinya terjadi ketidaksinkronan antar ke dua hal tersebut. Wacana yang sudah lama berkembang di dunia kampus adalah mengenai ditetapkannya UU BHP (Badan Hukum Pendidikan), sedikit memberikan gambaran singkat bahwa UU BHP ini adalah semacam bentuk komersialisasi pendidikan, jadi perguruan tinggi diberi kebebasan secara mandiri untuk mengelolah keuangan kampusnya. Dan dalam pelaksanaanya biasanya dibutikan dengan dinaikkanya uang SPP oleh pihak perguruan tinggi. Maka dapatlah kita pastikan ketika biaya SPP tinggi maka hanya akan ada mahasiswa kelas menengah ke atas yang bisa menikmati kuliah. Ini amat terbalik dengan sekolah gratis. Memang pemerintah memaparkan sudah ada solusi dari UU BHP ini yakni dengan adanya beasiswa bagi mahasiswa yang ekonominya menengah ke bawah, tetapi saya pikir hal itu tidak terlalu menggembirakan bagi sebagian besar masyarakat menengah ke bawah tersebut. Karena yang namanya beasiswa pastilah mempunyai batasan-batasan tertentu sebagai persyaratan.

Selain akan berpengaruh kepada masyarakat kelas menengah ke bawah tersebut, juga akan mempunyai efek kepada mahasiswa yang berkesempatan mengeyam kuliah dengan biaya yang selangit tersebut. Nantinya ditakutkan setelah mereka terjun ke dunia kerja mereka akan menanamkan satu tujuan dulu yakni mengembalikan modal kuliah mereka yang besar. Katakanlah dokter misalnya, ketika hal tersebut terjadi maka dokter-dokter tersebut akan memprioritaskan bagaimana caranya uang yang mereka bayarkan pada saat kuliah harus segera kembali, sedangkan kesembuhan dan cara pengobatan terbaik kepada pasien di nomor duakan. Selain itu juga dengan orientasi uang nantinya ditakutkan juga perguruan tinggi bakalan mengesampingkan kemampuan intelektual dari calon mahasiswa itu sendiri, saya ambil contoh lagi misalnya untuk masuk ke FK perguruan tinggi tersebut menetapkan biaya tertentu tanpa melihat lagi kemampuan akademis dari calon mahasiswanya asalkan ada uang bisa kuliah di FK. Saya yakin anda juga sudah bisa membayangkan bagaimana nantinya dokter-dokter yang dihasilkan, hal-hal tersebutlah mungkin menjadi latar belakang belakangan ini banyak terjadi kasus mal praktik.

Semoga tulisan ini bisa sedikit menguggah para pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini, agar selalu memprioritaskan kualitas pendidikan. Saat ini Indonesia dalam peringkat Indeks Pembangunan Manusia yang baru direvisi oleh UNDP (United Nation Development Programme) tahun 2008 tadi menempatkan Indonesia di posisi 108 dari 179 negara, dan posisi ini jauh di bawah Brunei Darusslam (27), Singapura (28), dan Malaysia (63). Sementara itu kalau dalam peringkat perguruan tinggi dunia (World University Ranking) perguruan tinggi terkemukan di Indonesia baru bisa menempati peringkat 287 yakni Universitas Indonesia, lalu disusul ITB (315) dan UGM (360).

Ditulis oleh Satriawan Wijaya, pukul 21.00 WIB 2 Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s