Ketua MPR Tidur Di Atas Lantai Beralas Tikar


KALAU ada pejabat tinggi yang mau tidur di lantaiberalas tikar, dialah Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. Ia melakukan setiap kali mengunjungi ibunda, di Dusun Kadipaten Lor, Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. ”Mas Nur tidak mau tidur di hotel,” kata Septi Swastani Setyaningsih adik bungsu Hidayat Nur Wahid yang memanggil kakaknya, Mas Nur itu.

Nur Wahid memilih tidur di rumah sederhana seluas 15 meter x 10 meter yang ditempati Nyonya Siti Rahayu, 69 tahun, ibunda Nur Wahid. Tidak ada pernik kemewahan di rumah ini. Ruang tamunya hanya diisi satu meja kursi. Di ruang keluarga cuma ada televisi 14 inci.

Di rumah itulah Hidayat Nur Wahid dilahirkan pada 8 April 1960. Ia adalah putra sulung tujuh bersaudara dari pasangan H. Muhamad Syukri dan Siti Rahayu. ”Nama Hidayat Nur Wahid itu pemberian bapaknya,” kata Nyonya Siti Rahayu, 69 tahun. Hidayat berartinya petunjuk, Nur adalah cahaya, dan Wahid artinya satu.

Secara nama, Hidayat Nur Wahid merupakan obsesi sekaligus doa dari kedua orangtuanya agar anak sulung ini menjadi petunjuk dan cahaya yang nomor satu. ”Alhamdulilah terkabul,” kata Siti Rahayu yang menilai Nur Wahid bisa menjadi petunjuk dan cahaya bagi keluarga dan adik-adiknya. Lebih dari itu, Nur Wahid kini menjadi pelopor hidup sederhana di kalangan pejabat tinggi negeri ini.

Latar belakang kehidupan keluarga Nur Wahid sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Di dusun kelahiran Nur Wahid yang terletak sekitar satu kilometer selatan Candi Prambanan, keluarganya tergolong sebagai pemuka agama. Kakek dari ibunya merupakan tokoh Muhamamdiyah di Prambanan. Ayahnya, H. Muhammad Syukri (almarhum), meski hidup di kultur NU, merupakan salah satu pengurus Muhamadiyah di Klaten. Ibunya aktivis Aisyiah, organisasi wanita Muhammadiyah.

Kedua orangtua Nur Wahid berprofesi guru. Hanya saja, sang ibu berhenti sebagai guru TK ketika anak keduanya lahir. Sedangkan ayahnya terus berkarir di jalur pendidikan. Mulai menjadi guru SD, SMP, hingga akhirnya menjadi Kepala Sekolah di STM Prambanan. Ayahanda Nur Wahid, meninggal enam tahun silam.

Sebagai anak guru, Nur Wahid mendapatkan pendidikan yang sangat baik. Kecerdasan Nur Wahid sudah terlihat sejak masih kanak-kanak. Ia sudah bisa membaca sebelum masuk SD. Kegemarannya membaca itu berlanjut sampai sekarang. Di masa anak-anak dan remaja, Nur Wahid mengaku gemar membaca komik Kho Ping Ho. ”Itu bacaan favorit saya,” katanya Nur Wahid.

Selain keranjingan membaca komik, Hidayat juga suka membaca buku-buku sastra dan sejarah milik ayahnya dan keluarga. Kebetulan, sang bapak adalah sarjana muda lulusan IKIP Negeri Yogyakarta. Sebagian besar anggota keluarga Nur Wahid juga bergerak di bidang pendidikan. ”Keluarga besar saya adalah keluarga guru dan karenanya lingkungan saya adalah lingkungan belajar,” Nur Wahid menegaskan.

Saat sekolah, Nur Wahid terhitung murid yang pintar. Di bangku SD Negeri I Kebondalem Kidul, Prambanan, dia selalu mendapat predikat juara. Meski belajar di SD Negeri, Nur Wahid menambah ilmu agama dengan mengaji di masjid pada malam hari. Selain itu, ia juga belajar membaca Al Quran secara secara privat kepada seorang kiai di desanya.

”Kiai saya itu sebenarnya pekerjaan sehari-harinya adalah penjahit. Di sore hari, dia mengajar anak-anak,” kenang Nur Wahid. Selain itu, orangtua Nur Wahid juga sudah melatih dirinya berpuasa sejak masih berumur tujuh tahun. Sebenarnya, Nur Wahid cuma disuruh ”puasa beduk” atau berbuka saat luhur tiba. ”Tapi, setelah berbuka, saya tetap puasa lagi,” kata Nur Wahid pula.

Ia menilai, orangtuanya mendidik anak-anak dengan keras dan disiplin. Nur Wahid harus menjalani jam belajar, jam tidur, dan jam salat secara disiplin. Pernah suatu ketika, Nur Wahid mengenang, dirinya diikat di bawah pohon. Itu karena ia terlambat menjalankan salat. Nur Wahid juga pernah dihukum dikunci di dalam kamar, karena tidak pergi mengaji.

Sesekali Nur Wahid kecil memberontak juga. Misalnya, pada waktu Ramadan, orangtua Nur Wahid mewajibkan tidur siang ”Tapi saya malah pergi diam-diam, bermain sama teman-teman,” ujarnya Nur Wahid. Ia juga pernah mengelabui orangtuanya soal waktu berbuka puasa.

Pada masa itu, di desa tempat tinggal Nur Wahid belum banyak orang yang punya radio. Televisi juga belum ada yang memiliki. Sedangkan jam belum menjadi tradisi keluarga dan warga di desanya. Maka untuk mengetahui kedatangan waktu magrib tiba, orang hanya memakai patokan matahari tenggelam.

Kalau cuaca mendung, orang kesulitan menetapkan waktu buka puasa. Warga desa setempat berpatokan pada kelelawar. Bila ada yang terbang berarti magrib telah tiba. Maka Nur Wahid kecil bersama kawan-kawannya menghalau kelelawar yang bersarang di kuncup daun pisang. Terbanglah kekelawar itu.

Mereka lantas menunjukkan kelelawar terbang pada orangtuanya. Saat itulah mereka minta berbuka puasa. ”Padahal, sebenarnya magrib belum tiba,” kata Nur Wahid sambil terkekeh-kekeh mengenang masa kecil.

Selain beban belajar agama, Nur Wahid kecil juga diajar mengenal tanggung jawab pada keluarga. Ketika Nur Wahid duduk di kelas III SD, orangtuanya membelikan seekor kambing. Antara waktu asar hingga magrib, Nur Wahid diharuskan menggembalakan kambing.

Dari kegiatan menggembala kambing inilah Hidayat Nur Wahid mengaku belajar banyak hal. Mulai dari belajar bertanggung jawab mencari rumput, ke mana harus menggembalakan kambing, hingga belajar tanggung jawab agar kambing-kambingnya tidak memakan tanaman petani. ”Ketika sedang menggembala kambing, Nur Wahid juga sering mengajari kami mengaji,” kata Suparman, 45 tahun, kawan sekolah di SD yang juga teman penggembala Nur Wahid kepada waratawan Gatra Mukhlison S Widodo.

Ketika tamat SD tahun 1973, Nur Wahid nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor , Ponorogo, Jawa Timur. Sebelum masuk Gontor, ia sempat mondok di Pondok Pesantren Ngabar, juga Ponorogo. Pesantren ini didirikan salah seorang alumni Gontor. ”Ada yang tidak saya dapatkan di Gontor justru saya peroleh di Ngabar,” Nur Wahid.

Misalnya, di Ngabar Nur Wahid bisa bergabung menjadi anggota Pelajar Islam Indonesia (PII). Sementara di Gontor hanya ada Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). ”Dengan menjadi anggota PII, kami punya jaringan nasional,” kata Nur Wahid. Setelah belajar selama setahun di Pondok Ngabar, Nur Wahid baru masuk ke Gontor dan duduk di kelas II.

Di Gontor, Nur Wahid termasuk santri cerdas. Ia selaku mendapat ranking atas. ”Karena prestasinya itu, Nur Wahid duduk di Kelas B, kelas yang hanya diisi oleh santri-santri berprestasi,” kata Zainal Arifin, 47 tahun, teman sengkatan Nur Wahid yang kini menjadi ustad di Pondok Modern Gontor. Di sinilah bakat kepemimpinan Nur Wahid semakin terasah.

Dengan aktivitas pondok yang padat dan disiplin, jiwa kepemimpinan Nur Wahid tertempa. Ia mengikuti banyak aktivitas, mulai dari kursus bahasa Inggris dan Arab, juga ikut pengkajian sastra, hingga kursus menjahit. Nur Wahid kemudian diangkat sebagai Staf Andalan Koordinator Urusan Kesekretariatan, ketika duduk di Kelas V Podok Gontor .

Lulus dari Gontor tahun 1978, Nur Wahid HIhHI sempat mencicipi bangku Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tidak lebih dari satu tahun, ia mendapat beasiswa belajar di Univeristas Islam Madinah, Arab Saudi. Tahun 1990, ia meminang Kastian Indriawati. Saat ini pasangan Hidayat Nur Wahid dan Kastian dikaruniai empat anak.

Setelah meraih gelar master dan doktor bidang akidah, tahun 1993, Nur Wahid kembali ke Tanah Air. Ia menjadi dosen di Universitas Muhamadiyah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayattullah, Jakarta. Nur Wahid juga aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Serta mengelola sejumlah yayasan berbendera Islam, antara lain Yayasan Al-Khoirot dan Yayasan Al-Haramain.

Gerakan reformasi 1998, menuntun aktivitas Nur Wahid ke dunia politik praktis Ia tercatat sebagai anggota Dewan Pendiri Partai Keadilan (PK). Pada waktu PK dideklarasikan, ia sebenarnya nyaris didaulat menjadi presiden partai. Nur Wahid menolak karena merasa belum siap. Kemudian Nur Mahmudi Ismail yang diangkat sebagai Presiden PK. Nur Wahid duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai.

PK pada Pemilu 1999 hanya mendapat suara kurang dari 3% sehingga partai ini sulih nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Nur Wahid terpilih sebagai Presiden PKS menggantikan Nur Mahmudi. Kepemimpinan Nur Wahid di PKS memberikan warna tersendiri dalam peta perpolitikan nasional. Citra PKS sebagai partai bersih dan mengedepakan moral, mendapat tempat di masyarakat. Terbukti, Pemilu 2004, PKS mendapat 10% suara.

Pamor Hidayat Nur Wahid pun semakin mencorong. Politisi bergaya lembut yang mengedepakan moral dan dakwah ini terpilih sebagai Ketua MPR. Gerakan hidup sederhana pun digulirkan. Selama berlangsung sidang MPR ia menolak menginap di kamar hotel bintang lima.

Nur Wahid juga menolak menggunakan mobil Volvo sebagai kendaran dinas. Ia memilih mengendarai mobil pribadinya, Toyota Kijang tahun 2002. Langkah ini kemudian diikuti sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Luqman Hakim Arifin
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 13 Beredar 4 Februari 2005]

4 thoughts on “Ketua MPR Tidur Di Atas Lantai Beralas Tikar

  1. oyonghairudin says:

    Insya Allah Kalo Allah mengijinkan PKS memperoleh suara lebih atau sama dengan 20 % maka kami sebagai kader siap mencalonkan beliau sebagai Presiden. I think he is true for memimpin Indonesia ini, Oleh karena itu mari kita bersama satukan visi, satukan misi untuk mencobolos Partai Keadilan Sejahtera pada pemilu 2009 insya allah suara anda dipertanggung jawabkan.

    Bangkit Negeriku Harapan itu Masih Ada.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s