Materi Lailatul Qadr Taushiyah Ramadhan KARISMA


moonlight22

Pada suatu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bercerita kepada para sahabatnya tentang pejuang dari Bani Israil yang bernama Sam’un. Selama 1000 bulan atau delapan puluh tiga tahun ia tidak pernah meletakkan senjata atau beristirahat dari perang Fii Sabilillah. Ia hanya berperang dan berperang demi menegakkan agama Allah tanpa mengenal rasa lelah. Para sahabat ketika mendengar cerita tersebut, mereka merasa kecil hati dan merasa iri dengan amal ibadah dan perjuangan orang tersebut. Mereka ingin melakukan amal ibadah dan perjuangan yang sedemikian rupa, tapi bagaimana mungkin untuk melakukannya sedang umur kehidupan mereka jarang yang mencapai usia lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun. Di dalam hadist disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: “Usia ummatku sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun”. karena itulah mereka bersedih dan kecil hati.

Ketika para sahabat sedang berfikir dan merenungkan tentang hal itu, dimana mereka merasa kecil hati karena tidak mungkin berbuat hal yang telah diperbuat oleh orang Bani Israil yang telah disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membawa wahyu dan kabar kembira kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Berkata malaikat Jibril Alaihis Salaam: Allah Subhanahu Wa Taala telah menurunkan kepadamu ya Rasulullah surat Al Qadr, dimana di dalamnya terdapat kabar gembira untukmu dan ummatmu, dimana Allah menurunkan malam Lailatul Qadr, dimana orang yang beramal pada malam Lailatul Qadr mendapatkan pahala lebih baik dan lebih besar daridari pada seribu bulan. Maka amal ibadah yang di kerjakan ummatmu pada malam Lailatul Qadr lebih baik dari pada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang beribadah selama delapan puluh tahun. Lalu malaikat jibril membacakan surat Al Qadr yang artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemulian (Lailatul Qadr).Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan. malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahtraan sampai terbit fajar. Maka dengan turunnya wahyu tersebut yang penuh dengan kabar gembira, Rasulullah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya merasa senang dan gembira dengan adanya Lailatul Qadr.

Umat Islam berlomba-lomba meraihnya. Namun sangat jarang yang menemukannya. ”Lailatul Qadar itu mirip dengan tamu agung yang datang berkunjung ke suatu tempat. Boleh jadi, sekian banyak orang, bahkan ribuan orang yang datang menjemputnya di airport, dia hanya akan datang ke tempat orang yang sudah dia kenal, yang dia rasakan sudah siap untuk menyambutnya. Kalau tidak, tentu Lailatul Qadar tidak akan datang,” ujar pakar tafsir, Prof Dr M Quraish Shihab

Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do’a dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Beberapa pelajaran dari surat Al-Qadr :
1. Keutamaan Al-Qur’anul Karim serta ketinggian nilainya, dan bahwa ia diturunkan pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan).
2. Keutamaan dan keagungan Lailatul Qadar, dan bahwa ia menyamai seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
3. Anjuran untuk mengisi kesempatan-kesempatan baik seperti malam yang mulia ini dengan berbagai amal shalih.

Adapun ada beberapa kiat dalam menggapai malam al qodar ini, Syaikh Albani menyampaikan beberapa kiat antara lain :

1. Menegakkan qiyam lail, dimana beliau merekomendasikan menegakkan sholat malam yang panjang pada saat kemungkinan turunnya malam al qodar. Dari Abu Tharr.R.A : barangsiapa yang berdiri untuk shalat bersama imam hingga imam menyelesaikan shalatnya, maka akan dicatat bahwa dia salat sepanjang malam (Hadits Sahih dari Ibnu Abi Shaybah,Abu Dawud, At Tarmizi, An Nasai, Ibnu Majah dan Al Baihaqi).

2. Berdoa kepada Allah, pada malam ini direkomendasikan untuk mengintensifkan doa. Dari Aisyah RA beliau bertanya lepada Rasul Saw, Ya Rasul Saw, bilamana saya mengetahui kapan malam lailatul qodar, apa yang harus saya katakan saat itu. Nabi menginstruksikan lepada Aisyah untuk mengatakan: Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fafuanna (HR Ahmad,Ibnu Majah dan At Tarmizi, dishahihkan Albani)

3. Meninggalkan kesenangan untuk beribadah kepada Allah, dimana direkomendasikan untuk menyediakan waktu untuk beribadah pada malam hari dimana kemungkinan adanya malam al qodar. Dari Aisyah RA, ketika mulai 10 hari terakhir ramadhan, Nabi Saw mengencangkan izaar nya (beliau menjauhi istrinya untuk beribadah lepada Allah), menghabiskan sepanjang malam untuk beribadah dan membangunkan keluarganya (HR.Bukhari Muslim). Dan Aisyah berkata, Rasul Saw mengerahkan secara maksimal seluruh potensi dirinya untuk beribadah pada 10 hari terakhir ramadhan (HR.Muslim)

Ada riwayat yang mengata- kan, bahwa bilangan Malaikat yang berada di bumi pada malam itu lebih banyak dari pasir dan Allah menerima taubat semua orang yang bertaubat pada malam itu. Pada malam itu dibuka segala pintu langit, sejak dari terbenam matahari sampai terbitnya. Jibril turun bersama dengan serombongan Malaikat. Lalu mereka menancapkan panji-panjinya di empat tempat:  Pertama di sisi Ka’bah; Kedua, di sisi kubur Rasulullah saw.; Ketiga, di sisi Masjid Baitul Maqdis; Keempat, di sisi Masjid Tursina. Kemudian mereka bertebaran ke seluruh pelosok bumi, memasuki rumah-rumah orang-orang mukmin sambil bertasbih, bertaqdis, dan memohon ampunan bagi umat Muhammad. (Hasbi As Shiddiqqie, Pedoman Puasa, halaman 243)

Teknik “perburuan” yang dicontohkan Rasul adalah dengan melakukan i’tikaf di masjid dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Demi menggapai Lailatul Qodar itu, umat Islam diizinkan untuk hidup seperti pertapa, mengurung diri di dalam masjid, menyibukkan diri dengan sholat, dzikir, doa, mengkaji Alquran dan Sunnah, serta menjauhi segala urusan duniawi.

Sebenarnya, seluruh malam bulan Ramadhan adalah waktu untuk mendapatkan Lailatul Qodar itu. “Perburuan” terhadap malam kemuliaan itu hendaknya dilakukan sejak malam pertama bulan Ramadhan. Tak sehari pun berlalu tanpa amal shalih.

Ibarat seorang pesepakbola profesional yang terus berlatih dan bermain, setiap hari, minimal untuk menjaga kondisi tubuh dan teknik memainkan bola, meski tidak ada pertandingan resmi. Atau ibarat sebuah tim sepakbola yang harus melalui babak penyisihan dengan baik. Memandang setiap pertandingan sebagai final. Hanya tim terlatih dan terbaik yang bisa meraih juara.

Dengan demikian, Lailatul Qodar hanya akan ditemui oleh mereka yang mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailatul Qodar hanya akan diraih oleh orang-orang tertentu yang berakhlak mulia dan memuliakan hari-harinya dengan menjalankan syariat Islam.

Pengertian

Lailatul Qodar adalah salah satu keutamaan bulan Ramadhan. Secara etimologis (harfiyah/ bahasa), kata qadar di dalam Alquran setidaknya dimaksudkan untuk tiga arti: penetapan dan pengaturan, kemuliaan, dan sempit.

Berdasarkan arti pertama, Lailatul Qadar berarti suatu malam di mana segala hal yang menyangkut alam dunia ini ditetapkan dan diatur. Maka, Lailatul Qadar dalam pengertian ini adalah penetapan kembali sejarah kehidupan manusia. Karena, ia adalah awal penetapan kembali takdir Allah, maka umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa dianjurkan bertadarus Alquran sebanyak mungkin, beriktikaf, dan ibadah-ibadah lain seperti dicontohkan Rasulullah.

Tadarus Alquran berarti memahami segala kandungan Alquran secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong. Sehingga, Alquran benar-benar menjadi bagian dalam hidup kita yang hakiki. Selain itu, Nabi juga menganjurkan memperbanyak iktikaf di dalam masjid. Ini yang selalu beliau praktikkan terutama pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Dalam iktikaf, seseorang dianjurkan memperbanyak evaluasi dan introspeksi diri, menyadari segala kesalahan yang lalu, dan merenungi kebesaran Allah. Selanjutnya memandang masa depan secara positif, bertekad memperbaiki diri sendiri untuk tidak melakukan berbagai dosa dan kesalahan. Pada saat yang sama, bertekad meningkatkan amaliah sehari-hari yang diridhai Allah.

Lailatul Qadar menurut makna kedua yaitu kemuliaan. Surat Al-Qadar menjelaskan kemuliaan ini adalah disebabkan adanya berbagai peristiwa istimewa. Di antaranya peristiwa turunnya Alquran. Karena Lailatul Qadar merupakan diturunkannya Alquran di samping malam ditetapkannya segala sesuatu, maka hakikatnya ia lebih baik dari apa pun juga.

Alquran menggambarkannya dengan hitungan seribu bulan. Artinya, bahwa ketika seseorang dalam perenungannya memahami kebesaran Allah dengan membaca ayat demi ayat Alquran beserta memahami maknanya, maka saat itulah momen Lailatul Qadar akan menemuinya. Malam itu tidak akan menemui orang-orang yang belum siap, dalam artian bahwa jiwanya belum mampu untuk menerimanya. Ia hanya menghampiri orang-orang yang sejak awal Ramadhan benar-benar telah siap, yaitu orang-orang yang selalu menghidupi malam-malamnya dengan ibadah kepada-Nya.
Makna ketiga dari kata qadar adalah sempit. Ia dikatakan sempit karena banyaknya malaikat Allah yang turun memberikan ketenangan dan kedamaian pada jiwa manusia hingga waktu pagi datang. Mengenai malaikat yang turun ini, ulama Muhammad Abduh mengilustrasikan mereka sebagai bisikan yang baik.

Turunnya malaikat pada Lailatul Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya berarti bahwa ia selalu disertai oleh malaikat, sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Jiwanya akan selalu merasakan kedamaian yang tidak terbatas sampai fajar Lailatul Qadar, tetapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Al Quran

  • Al Qadr : 1-5

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. “(Al-Qadr: 1-5)

  • Ad Dukhaan : 3

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (alQur-an) pada suatu malam yang diberkahi.” (Ad-Dukhaan:3)

Hadits

  • Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti disampaikan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan, “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
  • Dalam suatu Hadits dari  Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda:
    “Sesungguhnya Allah melihat pada malam al qadar kepada orang-orang mukmin dari umat Muhammad, lalu dimaafi mereka dan dirahmati-Nya, kecuali empat orang, yaitu : Peminum arak, pendurhaka kepada ibu-bapak, orang yang selalu bertengkar dan orang yang memutus tali silaturahmi.”
  • Dalam sebuah hadits riwayat Anas bin Malik, Rasulullah SAW menegaskan, “Sesungguhnya Allah mengaruniakan Lailatul Qodar hanya untuk umatku dan (Allah) tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya”.

Waktu turunnya LQ

Selanjutnya dari sepuluh hari terakhir tersebut, kemungkinan yang lebih dekat adalah pada malam-malam ganjil, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”     (Riwayat Bukhari)

Dari malam-malam ganjil tersebut, kemungkinan yang paling dekat adalah malam-malam ganjil pada tujuh hari terakhir, berdasarkan riwayat bahwa sejumlah shahabat ada  yang bermimpi melihat Lailatul Qadr pada malam tujuh hari terakhir, dan hal tersebut disetujui Rasulullah, sehingga beliau bersabda:

“Siapa yang ingin mendapatkannya, hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir (bulan Ramadhan)” (Muttafaq alaih)

Dan dari tujuh hari terakhir tersebut, yang paling dekat adalah pada malam kedua puluh tujuh Ramadhan, sebagai-mana perkataan Ubay bin Ka’ab Ra.:

“Demi Allah, saya mengetahui kapan malam tersebut (Lailatul Qadr) yang kita diperintahkan Rasulullah untuk beribadah di dalamnya, dia adalah malam kedua puluh tujuh (Ramadhan)” (Riwayat Muslim)

Lailatul-Qodar itu jatuh pada malam 17 Ramadhan, yaitu malam diturunkannya Al Qur‘an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhu- berkata:
“Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Inilah pendapat-pendapat yang mengatakan tentang kedatangan malam Lailatul Qadr, lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Perlu kita ketahui hikmah di rahasiakannya kedatangan malam Lailatul Qadr adalah agar kita Umat Islam berjaga-jaga dan bersiap-siap dengan melakukan ibadah disetiap malam dibulan Ramadhan tanpa harus menentukan satu malam atau menjadikan malam tertentu lebih dari malam lainnya. Kita harus meningkatkan nilai-nilai ibadah kita dibulan Ramadhan dengan prinsip malam ini lebih baik dari malam kemarin dan seterusnya, dan berharap pada Allah SWT agar diberi taufik untuk beribadah pada malam Lailatul Qadr, sehingga kita mendapatkan ucapan salam dari para malaikat yang turun ke bumi dan masuk ke setiap rumah orang-orang mu’min untuk memberikan salam dan mendoakan kepada penghuni rumah. Bahkan di riwayatkan didalam hadist oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam didalam khutbahnya: “Barangsiapa memberikan makanan untuk orang berbuka puasa dari hartanya yang halal maka malaikat memintakan ampunan dari Allah atas dosa-dosanya sepanjang bulan Ramadhan dan disalami oleh Jibril AS dimalam Lailatul Qadr dan barang siapa yang disalami oleh jibril niscaya lembut hatinya dan banyak air matanya”. Dan apa bila kita ingin mengetahui apakah rumah kita telah di masuki oleh para malaikat dan kita telah di salami olah malaikat Jibril di malam Lailatul Qadr, maka lihatlah diri kita apakah hati kita lembut apakah mata kita selalu mencucurkan air matanya karena Allah? Maka apabila kita telah dapati hal hal tersebut di diri kita maka kita termasuk didalam golongan orang-orang yang berbahagia yang melebihi orang-orang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil dan kita termasuk didalam golongan orang-orang yang patut untuk dibanggakan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam di hari kiamat nanti di hadapan para Nabi dan Rasul.

Tanda-tanda turunnya LQ

  • seseorang adalah kedamaian dan ketenangan batinnya, sehingga benar-benar menikmati kedekatan dengan Allah melalui amal ibadah pada malam itu.
  • pagi harinya matahari bersinar cerah, tetapi sinarnya tidak terlalu panas
  • hari itu penuh dengan ketenangan dan ketenteraman sehingga dikatakan tidak terdengar gonggongan anjing
  • langit dalam keadaan bersih,
  • seperti ada bulan terbit, malam hening
  • tidak dingin dan tidak panas
  • tidak ada bintang yang terlempar hingga pagi
  • matahari terbit tidak menyilaukan di pagi harinya seperti bulan purnama
About these ads

4 Responses to Materi Lailatul Qadr Taushiyah Ramadhan KARISMA

  1. dila dan keluarga mengucapkan maaf lahir bathin ya … moga berkah. amin. :)

  2. Yadi Utama says:

    Salam blogger. Dari Komunitas Blogger Unsri.

  3. @ Fadhilatul
    Ya sama2 mbak Dhila,
    saya juga mohon maaf jikalau pernah salah kata, salah perbuat, dan salah postingan

    Taqabbalallahu minna wa minkum

    ~ hAPPy Iedul Fitri 1430 H ~

  4. @ Yadi
    salam blogger juga mas Yadi
    Keep blogging !!! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: